AHLAN WA SAHLAN YA IKHWAH...
Sedikit kata untuk kita renungkan bersama...

Minggu, 04 September 2016

Ringkasan SYARAH HADITS ARBA'IN IMAM AN-NAWAWI Rahimahullaahu Ta'ala, Hadits Ke-15


Bismillaahir rahmaanir rahiim
Assalamu'alaykum wa rahmatullaah wa barakaatuh.


"Innal hamdalillaah nahmaduhu wanasta'iinuhu wanastaghfiruhu wana'uzdubillaahi minsyururi anfusinaa waminsayyi aati 'amaalinaa mayyahdihillaahu falaa mudhillalah wamayyudlil falaa hadiyalah."


"Asyhadu alaa ilaha illallaah wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu warasuuluh laa nabiy ya ba'da."


"Segala puji hanya milik Allah 'Aza wa Jalla, kita memuji-Nya, kita memohon pertolongan kepada-Nya, kita memohon ampun kepada-Nya, dan kita berlindung kepada-Nya dari kejelekan-kejelekan diri kita dan kejelekan amal perbuatan kita. Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah 'Aza wa Jalla maka tidak ada seorangpun yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah 'Aza wa Jalla maka tidak seorangpun yang dapat memberi hidayah kepadanya."


"Aku bersaksi bahwa tidak ada yang patut disembah dengan haq (benar) kecuali Allah 'Aza wa Jalla saja, dan tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya. Dan tidak ada Nabi setelahnya"


Qola Allaahu Ta'ala fii Kitabul Karim: "Yaa ayyuhal ladziina aamanu taqullaaha haqqo tuqootih walaa tamuutunna illaa wa antum muslimun."


Allah Ta'ala berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan beragama Islam."
(QS. Ali Imran: 102).


Wa qola Allaahu Ta'ala: "Yaa ayyuhan naasuttaquu robbakumul ladzii kholaqokum min nafsi wa hidah wa kholaqo minhaa dzaujaha wa batstsa minhuma rijaalan katsiiran wanisaa a wattaqullaah alladzii tasaa aluunabihi wal arhaama innallaaha kaana 'alaikum roqiibaa."


Dan AllahTa'ala berfirman: "Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Robb kalian yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu, daripadanya Allah menciptakan istrinya dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan nama-Nya) kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian."
(QS. An Nisaa: 1).


Wa qola Allaahu Ta'ala: "Yaa ayyuhal ladziina aamanut taqullaah waquuluu qaulan sadiida yushlih lakum a'maalakum wa yaghfir lakum dzunuubakum wamayyuti 'illaah wa rasullahuu waqod faaza fauzan 'adzhiima."


Dan Allah Ta'ala berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah dan katakanlah dengan perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki bagi kalian amal-amal kalian dan mengampuni bagi kalian dosa-dosa kalian. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar."
(QS. Al Ahzab: 70-71).


Amma ba'du, "Fa inna ashdaqol hadiitsi kitaabullaah wa khairal hadi hadi muhammadin shallallaahu 'alaihi wasallam wasyarril umuuri muhdatsaa tuhaa wakulla muhdatsa tin bid'ah wakulla bid'atin dholaalah wakulla dholaalatin fiinnar."


Amma ba'du: "Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam, dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap yang diada-adakan adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah sesat, dan setiap kesesatan ada di neraka."


Ringkasan SYARAH HADITS ARBA'IN IMAM AN-NAWAWI Rahimahullaahu Ta'ala


Hadits Ke-15:


Dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia memuliakan tamunya."
[HR. Bukhari dan Muslim].


Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menggabungkan antara penyebutan iman kepada Allah dan hari akhir dengan ketiga perkara di atas. Sebab iman kepada Allah 'Aza wa Jalla adalah asas segala sesuatu yang wajib diimani. Sesungguhnya segala sesuatu yang wajib diimani mengikuti iman kepada Allah 'Aza wa Jalla. Adapun iman kepada Hari Akhir, di dalamnya terdapat peringatan terhadap akhirat dan balasan amal. Jika amal baik maka balasannya pun baik, jika buruk maka balasannya pun buruk.


Sabda beliau Shallallahu 'alaihi wasallam: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam", ini merupakan salah satu dari Jawami'ul Kalim Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Konsekuensinya adalah lisan wajib dijaga dari segala ucapan kecuali ucapan yang baik. An-Nawawi berkata dalam menerangkan hadits ini: "Asy-Syafi'i rahimahullah berkata: 'Makna hadits ini adalah jika seseorang hendak berbicara maka dia harus berpikir. Jika tampak bahwa ucapannya tidak mendatangkan mudharat baginya, maka dia bisa bicara. Namun jika tampak bahwa ucapannya mengandung mudharat dan dia ragu, maka dia harus diam'."
Imam Abu Muhammad bin Abi Zaid, Imam para pengikut Madzab Maliki Maroko pada zamannya berkata: "Semua adab kebaikan bercabang dari empat hadits":


Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam:


"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam."


Kemudian sabda beliau Shallallahu 'alaihi wasallam:


"Diantara tanda baiknya Islam seseorang adalah dia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya."


Kemudian sabda beliau Shallallahu 'alaihi wasallam kepada lelaki yang beliau beri wasiat ringkas:


"Jangan engkau marah."


Dan sabda beliau Shallallahu 'alaihi wasallam:


"Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri."


An-Nawawi menukill dari sebagian ulama bahwa dia berkata: "Seandainya kalian bisa membeli lembaran catatan para malaikat pencatat, niscaya kalian akan lebih banyak diam dari pada berbicara."


Kebaikan (Al Khair) adalah kata yang menjadi antonim keburukan (Asy Syarru). Kadang (Khair) berbentuk isim tafdhil (sehingga artinya paling baik atau lebih baik) yang dibuang hamzahnya.
Kedua bentuk ini terkumpul dalam firman Allah 'Aza wa Jalla:


"Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada ditanganmu: 'Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil daripadamu."
(QS. Al-Anfal: 70).


Sabda beliau Shallallahu 'alaihi wasallam: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya." Hak tetangga termasuk hak yang ditekankan. Banyak hadits yang memotivasi untuk memuliakan tetangga sekaligus memberikan ancaman jika menyakitinya atau mendatangkan mudharat baginya. Di antaranya hadits 'Aisyah radhiyallahu'anha:


"Jibril terus mewasiatkanku agar berbuat baik kepada tetangga, sampai aku mengira tetangga itu akan mendapatkan warisan."
[HR. Bukhari (6014), dan Muslim (2624)].


Dan hadits:


"Demi Allah dia tidak beriman. Demi Allah dia tidak beriman. Demi Allah dia tidak beriman."


Para shahabat bertanya: "Siapa wahai Rasulullah?"


Beliau menjawab: "Orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya."
[HR. Bukhari (6016) dan Muslim (73)].


Memuliakan tetangga dilakukan dengan berbuat kebaikan kepadanya dan tetangga mendapatkan kenyamanan tanpa mendapatkan gangguan. Tetangga dibagi tiga:

1. Tetangga yang muslim dan merupakan kerabat. Dia memiliki tiga hak: Hak sebagai tetangga, hak sebagai kerabat dan hak sebagai muslim.

2. Tetangga yang muslim namun bukan kerabat, dia memiliki hak sebagai tetangga dan hak sebagai muslim.

3. Tetangga non muslim dan bukan kerabat, dia hanya memiliki hak sebagai tetangga.


Tetangga yang paling berhak mendapatkan kebaikan adalah yang paling dekat dengan pintunya, sebab dia melihat apa yang masuk ke pintu tetangganya sehingga dia bisa melihat perbuatan baiknya.


Sabda beliau Shallallahu 'alaihi wasallam: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya." Memuliakan tamu termasuk hak seorang muslim atas muslim yang lainnya, dan merupakan salah satu bentuk akhlaq mulia. Dalam Shahih Bukhari [6019] dari hadits Abu Syuraih, dia berkata: "Kedua telingaku mendengar dan kedua mataku melihat ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam berbicara, beliau bersabda:


"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tetangganya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya ja'izahnya." Seseorang bertanya: "Apa itu ja'izah wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Sehari semalam. Bertamu waktunya tiga hari. Lebih dari itu merupakan sedekah atasnya."


Diantara kandungan hadits ini adalah:


1. Motivasi untuk berbicara kebaikan.

2. Motivasi untuk diam jika tidak berbicara kebaikan.

3. Mengingatkan tentang hari kiamat ketika memberikan motivasi dan ancaman. Karena pada hari kiamat semua amal diperhitungkan.

4. Motivasi untuk memuliakan tetangga dan peringatan untuk tidak menyakitinya.

5. Motivasi untuk memuliakan tamu dan berbuat baik padanya.


Wa Allahu Ta'ala a'lam.


Sumber:


Kitab "Fathul Qawiyyil Matin fi Syarhil Arba'in wa Tatimmatil Khamsin Lin Nawawi wa Ibni Rajab Rahimahumallah."
Ditulis Oleh: Syaikh 'Abdul Muhsin bin Hamd al-'Abbad al-Badr.
Diterjemahkan oleh:
Abu Habiib Sofyan Saladin.
Dalam Judul Versi Indonesia: "Syarah Hadits Arba'in an-Nawawi" (Plus 8 Hadits Ibnu Rajab).
Penerbit: "Darul Ilmi", Cileungsi-Bogor.

Ringkasan Kitab Syarah "HADITS ARBA'IN AN NAWAWI" Rahimahullaahu Ta'ala, Hadits Ke-29


Bismillaahir rahmaanir rahiim
Assalamu'alaykum wa rahmatullaah wa barakaatuh.


"Innal hamdalillaah nahmaduhu wanasta'iinuhu wanastaghfiruhu wana'uzdubillaahi minsyururi anfusinaa waminsayyi aati 'amaalinaa mayyahdihillaahu falaa mudhillalah wamayyudlil falaa hadiyalah."


"Asyhadu alaa ilaha illallaah wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu warasuuluh laa nabiy ya ba'da."


"Segala puji hanya milik Allah 'Aza wa Jalla, kita memuji-Nya, kita memohon pertolongan kepada-Nya, kita memohon ampun kepada-Nya, dan kita berlindung kepada-Nya dari kejelekan-kejelekan diri kita dan kejelekan amal perbuatan kita. Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah 'Aza wa Jalla maka tidak ada seorangpun yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah 'Aza wa Jalla maka tidak seorangpun yang dapat memberi hidayah kepadanya."


"Aku bersaksi bahwa tidak ada yang patut disembah dengan haq (benar) kecuali Allah 'Aza wa Jalla saja, dan tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya. Dan tidak ada Nabi setelahnya"


Qola Allaahu Ta'ala fii Kitabul Karim: "Yaa ayyuhal ladziina aamanu taqullaaha haqqo tuqootih walaa tamuutunna illaa wa antum muslimun."


Allah Ta'ala berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan beragama Islam."
(QS. Ali Imran: 102).


Wa qola Allaahu Ta'ala: "Yaa ayyuhan naasuttaquu robbakumul ladzii kholaqokum min nafsi wa hidah wa kholaqo minhaa dzaujaha wa batstsa minhuma rijaalan katsiiran wanisaa a wattaqullaah alladzii tasaa aluunabihi wal arhaama innallaaha kaana 'alaikum roqiibaa."


Dan AllahTa'ala berfirman: "Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Robb kalian yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu, daripadanya Allah menciptakan istrinya dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan nama-Nya) kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian."
(QS. An Nisaa: 1).


Wa qola Allaahu Ta'ala: "Yaa ayyuhal ladziina aamanut taqullaah waquuluu qaulan sadiida yushlih lakum a'maalakum wa yaghfir lakum dzunuubakum wamayyuti 'illaah wa rasullahuu waqod faaza fauzan 'adzhiima."


Dan Allah Ta'ala berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah dan katakanlah dengan perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki bagi kalian amal-amal kalian dan mengampuni bagi kalian dosa-dosa kalian. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar."
(QS. Al Ahzab: 70-71).


Amma ba'du, "Fa inna ashdaqol hadiitsi kitaabullaah wa khairal hadi hadi muhammadin shallallaahu 'alaihi wasallam wasyarril umuuri muhdatsaa tuhaa wakulla muhdatsa tin bid'ah wakulla bid'atin dholaalah wakulla dholaalatin fiinnar."


Amma ba'du: "Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam, dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap yang diada-adakan adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah sesat, dan setiap kesesatan ada di neraka."


Ringkasan Kitab Syarah "HADITS ARBA'IN AN NAWAWI" Rahimahullaahu Ta'ala


Hadits Ke-29:


Dari Mu'az bin Jabal radhiyallahu 'anhu dia berkata: "Saya berkata: 'Ya Rasulullah, beritahukan saya tentang perbuatan yang dapat memasukkan saya ke dalam surga dan menjauhkan saya dari neraka.' Beliau Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Engkau telah bertanya tentang sesuatu yang besar, dan perkara tersebut mudah bagi mereka yang dimudahkan Allah Ta'ala: Beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya sedikitpun, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan menunaikan haji.' Kemudian beliau bersabda: 'Maukah engkau aku beritahukan tentang pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah benteng, sedekah akan mematikan (menghapus) kesalahan sebagaimana air mematikan api, dan shalatnya seseorang di tengah malam.' Kemudian beliau membacakan ayat: 'Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya...' hingga ayat: '(apa yang) mereka perbuat.' Kemudian beliau bersabda: 'Maukah engkau aku beritahukan pokok dari segala perkara, tiangnya dan puncaknya?' Saya menjawab: 'Mau ya Rasulullah.' Beliau bersabda: 'Pokok perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad.' Kemudian beliau bersabda: 'Maukah engkau aku beritahukan sesuatu yang mengumpulkan semua itu?' Saya berkata: 'Mau ya Rasulullah.' Maka beliau memegang lisannya dan bersabda: 'Jagalah ini.' Saya berkata: 'Ya Nabi Allah, apakah kita akan dihukum juga atas apa yang kita bicarakan?' Beliau bersabda: 'Celaka engkau, adakah yang menyebabkan seseorang diseret wajahnya di neraka -atau beliau bersabda: 'Diatas hidungnya'- selain buah dari lisan-lisan mereka?'
[HR. Tirmidzi dan dia berkata: "Hadits Hasan Shahih"].


Ucapannya: "Saya berkata: 'Ya Rasulullah, beritahukan saya tentang perbuatan yang dapat memasukkan saya ke dalam surga dan menjauhkan saya dari neraka.' Ini menunjukkan antusias para shahabat atas kebenaran dan semangat mereka untuk mengetahui amal-amal untuk meraih surga dan selamat dari neraka. Ucapannya juga menunjukkan adanya surga dan neraka, dan para wali Allah melakukan amal-amal shalih untuk meraih surga dan selamat dari neraka. Berbeda dengan ucapan sebagian shufi bahwa mereka tidak beribadah kepada Allah karena menginginkan surga dan tidak pula karena takut kepada neraka. Ini adalah batil. Sebab para shahabat sangat antusias untuk mengetahui amal-amal yang bisa membawa kepada surga dan menjauhkan dari neraka. Dan Allah 'Aza wa Jalla telah berfirman tentang kekasih-Nya:


"Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan."
(QS. Asy-Syu'ara': 85).


Ucapannya juga menunjukkan bahwa amal shalih merupakan sebab untuk memasuki surga. Dalam hal ini terdapat banyak ayat, diantaranya firman Allah 'Aza wa Jalla:


"Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan."
(QS. Az-Zukhruf: 72).


Dan firman-Nya 'Aza wa Jalla:


"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: 'Tuhan Kami adalah Allah', kemudian mereka tetap istiqomah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan."
(QS. Al-Ahqaf: 13-14).


Ini tidaklah menafikkan apa yang disebutkan dalam hadits:


"Salah seorang dari kalian tidak akan masuk surga dengan amalnya."


Para shahabat bertanya: "Tidak juga engkau wahai Rasulullah?"


Beliau Shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Tidak juga aku. Hanya saja Allah telah melimpahkanku dengan rahmat-Nya." Diriwayatkan oleh Bukhari [6463] dan Muslim [2816].


Huruf Ba' pada hadits tersebut berfungsi untuk mengungkapkan pertukaran, sedang huruf Ba' pada ayat di atas adalah sebagai ungkapan tentang sebab. Masuk surga bukanlah bayar atau ganti bagi setiap amal. Sesungguhnya amal shalih hanyalah sebab untuk masuk surga. Dan Allah 'Aza wa Jalla memberikan keutamaan dengan memberikan taufik untuk menjalankan sebab, yaitu amal shalih. Dan Allah memberikan keutamaan dengan memberikan balasan, yaitu masuk surga. Sehingga keutamaan dalam sebab dan musababnya kembali kepada Allah 'Aza wa Jalla.


Sabda beliau Shallallahu 'alaihi wasallam: "Engkau telah bertanya tentang sesuatu yang besar, dan perkara tersebut mudah bagi mereka yang dimudahkan Allah Ta'ala." Ini menerangkan tentang besarnya kedudukan pertanyaan ini, sekaligus menerangkan urgensinya dan memotivasi untuk semisalnya. Dimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mensifati hal-hal yang ditanyakan sebagai hal yang besar. Meskipun hal ini besar dan sukar untuk mengamalkannya, Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam telah menambahinya dengan hal yang menerangkan kemudahannya atas orang yang diberi kemudahan oleh Allah 'Aza wa Jalla. Ini menunjukkan bahwa seorang muslim harus sabar dalam menjalankan ketaatan meskipun berat bagi jiwa. Sebab hasil akhir sebuah kesabaran adalah terpuji.


Allah 'Aza wa Jalla telah berfirman:


"Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya."
(QS. Ath-Thalaq: 4).


Dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:


"Surga dikelilingi oleh hal-hal yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka dikelilingi oleh hal-hal yang disenangi oleh jiwa."
[HR. Bukhari (6487) dan Muslim (2822)].


Sabda beliau Shallallahu 'alaihi wasallam: "Beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya sedikitpun, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan menunaikan haji." Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam menerangkan bahwa hal terpenting yang mendekatkan kepada Allah 'Aza wa Jalla dan memberikan keselamatan menuju surga dan keselamatan dari neraka adalah menunaikan perkara-perkara fardhu. Yaitu dalam hadits ini adalah Rukun Islam yang telah disebutkan dalam hadits Jibril dan hadits Ibnu Umar: "Islam dibangun di atas lima perkara."
Telah disebutkan pula dalam hadits qudsi:


"Tidaklah hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan amalan yang lebih Aku cintai daripada dengan amal-amal yang Aku wajibkan atasnya."


Sabda beliau Shallallahu 'alaihi wasallam: "Beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya sedikitpun." Berisi tentang penjelasan hak Allah, yaitu mengikhlaskan ibadah kepada Allah 'Aza wa Jalla. Termasuk di dalamnya Syahadat Muhammad Rasulullah, sebab ibadah kepada Allah tidak bisa diketahui kecuali dengan membenarkan beliau Shallallahu 'alaihi wasallam dan mengamalkan apa yang beliau bawa. Setiap amal yang digunakan oleh seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah tidaklah mendatangkan manfaat baginya kecuali jika diikhlaskan kepada Allah dan dilakukan berdasarkan sunnah dan petunjuk Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Kedua syahadat ini adalah saling berkaitan. Syahadat Laa ilaaha illallaah harus disertai dengan syahadat Muhammad Rasulullah. Dalam hadits ini semua rukun Islam disebut secara berurutan sesuai dengan urgensi masing-masing. Shalat didahulukan sebab merupakan tali ikatan yang kuat antara hamba dengan Rabbnya, dan juga karena diulang-ulangi setiap malam dan siang sebanyak lima kali. Kemudian disebutkan setelahnya zakat, sebab dilakukan hanya sekali dalam setahun, dan manfaatnya didapat oleh penuai zakat dan penerimanya. Kemudian setelah itu disebutkan puasa, sebab diulang-ulangi setiap tahun. Dan setelah itu disebutkan haji, sebab hanya diwajibkan sekali seumur hidup.


Sabda beliau Shallallahu 'alaihi wasallam: "Maukah engkau aku beritahukan tentang pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah benteng, sedekah akan mematikan (menghapus) kesalahan sebagaimana air mematikan api, dan shalatnya seseorang di tengah malam." Kemudian beliau membacakan ayat: "Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya..." hingga ayat: "(apa yang) mereka perbuat." Setelah Nabi menerangkan ibadah-ibadah fardhu yang menjadi sebab masuk surga dan selamat dari neraka, beliau Shallallahu 'alaihi wasallam membimbing kepada sejumlah ibadah sunnah yang memberikan seorang muslim tambahan iman dan pahala serta penghapusan dosa. Ibadah-ibadah tersebut adalah sedekah, puasa dan shalat malam. Beliau Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda tentang puasa: "Puasa adalah benteng." Junnah artinya adalah pelindung, puasa adalah pelindung di dunia dan di akhirat. Sesungguhnya puasa di dunia melindungi dari perbuatan maksiat. Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:


"Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang telah memiliki kemampuan untuk menikah maka hendaklah dia menikah. Sesungguhnya itu lebih menjaga kemaluan dan menundukkan pandangan. Barangsiapa yang belum mampu maka hendaklah dia puasa. Sesungguhnya puasa menjadi penawar baginya."
[HR. Bukhari (1905) dan Muslim (1400)].


Dan puasa merupakan pelindung di akhirat dari neraka. Telah disebutkan dalam sebuah hadits:


"Barangsiapa yang puasa sehari di jalan Allah maka Allah jauhkan wajahnya dari neraka sejauh tujuh puluh tahun."
[HR. Bukhari (2840)].


Sabda beliau Shallallahu 'alaihi wasallam: "Dan sedekah akan mematikan (menghapus) kesalahan sebagaimana air mematikan api." Di dalamnya terkandung penjelasan tentang agungnya kedudukan sedekah yang sunnah. Bahwasanya Allah 'Aza wa Jalla menghapus dengannya dosa kesalahan sebagaimana air mematikan api. Dosa yang dimaksud di sini adalah dosa kecil, termasuk pula dosa besar jika diiringi dengan taubat. Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam menyerupakan sedekah mematikan dosa dengan air yang mematikan api, ini menunjukkan bahwa dosa hilang semuanya karenanya. Sebab jika air dituangkan ke atas api, maka air akan menghilangkannya hingga sirna tanpa wujud.


Sabda beliau Shallallahu 'alaihi wasallam: "Dan shalatnya seseorang di tengah malam." Inilah dia perkara ketiga dari pintu-pintu kebaikan, yang bisa digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah 'Aza wa Jalla. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menambahkan dengan membaca firman Allah Ta'ala:


"Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdo'a kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa-apa rizki yang Kami berikan. Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan."
(QS. As-Sajdah: 16-17).


Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam telah menerangkan bahwa shalat yang paling afdhal setelah shalat wajib adalah shalat malam, diriwayatkan oleh Muslim [1163]. Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam mengawali penjelasan tentang pintu-pintu kebaikan ini dengan pertanyaan, yaitu ucapan beliau kepada Mu'adz: "Maukah engkau aku tunjuki pintu-pintu kebaikan?" Ini beliau lakukan untuk menarik perhatian Mu'adz akan pentingnya apa yang beliau sampaikan. Agar dia siap menghapal apa yang disampaikan kepadanya.


Sabda beliau Shallallahu 'alaihi wasallam: "Maukah engkau aku beritahukan pokok dari segala perkara, tiangnya dan puncaknya?" Aku (Mu'adz) menjawab: "Mau ya Rasulullah." Beliau bersabda: "Pokok perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad." Yang dimaksud dengan perkara adalah perkara paling agung, yaitu agama yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Pokoknya adalah Islam secara umum, mencakup shalat, jihad dan lainnya. Beliau menyebutkan shalat dan mensifatinya sebagai tiang Islam. Beliau menyerupakannya dengan bangunan yang tegak di atas tiang-tiangnya. Shalat merupakan ibadah fisik yang paling penting, yang manfaatnya terbatas bagi pelakunya. Kemudian beliau menyebutkan jihad yang mencakup jihad melawan hawa nafsu dan jihad melawan musuh dari kaum kafir dan munafik. Beliau mensifati jihad sebagai puncak Islam. Sebab jihad menyimpan kekuatan bagi kaum muslimin dan kemenangan agama mereka mengungguli agama lainnya.


Sabda beliau Shallallahu 'alaihi wasallam: "Maukah engkau aku beritahukan sesuatu yang mengumpulkan semua itu?" Saya (Mu'adz) menjawab: "Mau ya Rasulullah." Maka beliau memegang lisannya dan bersabda: "Jagalah ini." Saya (Mu'adz) berkata: "Ya Nabi Allah, apakah kita akan dihukum juga atas apa yang kita bicarakan?" Beliau bersabda: "Celaka engkau, adakah yang menyebabkan seseorang diseret wajahnya di neraka -atau sabda beliau: "Di atas hidungnya"- selain buah dari lisan-lisan mereka?" ini mengandung penjelasan tentang bahaya lidah. Bahwa lidahlah yang menjerumuskan ke dalam segala kebinasaan. Dan kebaikan akan terkumpul dengan menjaga lisan. Sehingga tidak terlontar darinya kecuali kebaikan saja. Sebagaimana sabda beliau Shallallahu 'alaihi wasallam:


"Barangsiapa yang menjamin bagiku mulut dan kemaluannya maka aku jamin baginya surga."
[HR. Bukhari (6474)].


Beliau Shallallahu 'alaihi wasallam juga bersabda:


"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia berkata yang baik atau diam."


Ibnu Rajab rahimahullaah berkata ketika menjelaskan hadits ini dalam Jami'ul Ulum Wal Hikam [II/146-147]: "Ini menunjukkan bahwa menjaga lisan dan mengaturnya merupakan pokok dari segala kebaikan. Barangsiapa yang menguasai lidahnya maka dia telah menguasai urusannya, menguatkannya dan memantapkannya."
Dia juga berkata: "Yang dimaksud dengan buah lisan adalah balasan dan akibat dari ucapan yang haram. Sesungguhnya seorang insan dengan ucapannya dan amalnya menanam kebaikan dan keburukan. Kemudian di hari kiamat dia menuai apa yang telah dia tanam. Maka barangsiapa yang menanam kebaikan berupa ucapan dan amalan maka dia akan menuai kemuliaan. Dan barangsiapa yang menanam keburukan berupa ucapan dan amalan maka esok hari dia akan menuai penyesalan. Zhahir hadits Mu'adz ini menunjukkan bahwa kebanyakan hal yang memasukkan manusia ke dalam neraka adalah ucapan lisan mereka. Sesungguhnya maksiat ucapan termasuk di dalamnya kesyirikan yang merupakan dosa paling besar di sisi Allah 'Aza wa Jalla. Termasuk pula di dalamnya berkata atas nama Allah tanpa ilmu yang merupakan rekan kesyirikan. Termasuk pula di dalamnya persaksian palsu yang setara dengan kesyirikan kepada Allah 'Aza wa Jalla. Termasuk pula di dalamnya sihir, menuduh orang lain berbuat zina dan dosa-dosa besar dan kecil lainnya seperti dusta, menggunjing dan mengadu domba. Dan semua maksiat yang berupa perbuatan, pada umumnya tidak lepas dari ucapan yang menyertainya dan mendukungnya."


Ucapan beliau Shallallahu 'alaihi wasallam: "Tsakilatka ummaka." Syaikh Ibnu Utsaimin berkata dalam menerangkan hadits ini: "Artinya ibumu kehilangan engkau sehingga dia binasa karenanya. Kalimat ini tidaklah dimaksudkan sesuai maknanya. Sesungguhnya maksudnya adalah memberikan motivasi dan dorongan agar memahami apa yang diucapkan." Bahkan hal semisal termasuk do'a bagi orang yang diucapkan untuknya. Ini diisyaratkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Muslim [2603] dari Anas radhiyallahu 'anhu, di dalamnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:


"Wahai Ummu Sulaim, tahukah engkau bahwa aku telah mengambil syarat atas Rabbku. Aku berkata: Sesungguhnya aku hanya manusia biasa. Aku bisa ridha sebagaimana manusia ridha. Aku bisa marah sebagaimana manusia marah. Maka siapa saja dari umatku aku do'akan keburukan padahal dia tidak pantas untuk mendapatkannya, maka (aku mengambil syarat) agar Allah jadikan do'a itu sebagai pensuci, pembersih dan pendekat baginya dan kepada-Nya di hari kiamat."


Diantara kejelian Imam Muslim rahimahullaah dan bagusnya susunan kitabnya bahwa setelah hadits ini dia menyebutkan hadits Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma tentang ucapan beliau kepada Mu'awiyah: "Semoga Allah tidak mengenyangkan perutnya." Sehingga ucapan ini menjadi do'a kebaikan baginya, bukan do'a keburukan.


Di antara kandungan hadits ini adalah:

1. Semangat para shahabat radhiyallahu 'anhuma atas kebaikan dan mengenali apa-apa yang mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka.

2. Surga dan neraka benar-benar ada. Keduanya kekal dan tidak sirna.

3. Dalam ibadah kepada Allah 'Aza wa Jalla diharapkan bisa memasuki surga dan selamat dari neraka. Tidak seperti pendapat sebagian Sufi bahwa Allah tidak diibadahi karena ingin surga-Nya dan tidak pula karena takut dari neraka-Nya.

4. Penjelasan tentang pentingnya amal yang ditanyakan dalam hadits tersebut, bahwa hal tersebut adalah agung.

5. Jalan menuju surga berat, bisa ditapaki dengan kemudahan dari Allah 'Aza wa Jalla.

6. Hal terpenting yang dibebankan kepada bangsa jin dan manusia adalah ibadah kepada Allah 'Aza wa Jalla. Karenanyalah diturunkan kitab-kitab dan diutus para rasul.

7. Ibadah kepada Allah 'Aza wa Jalla tidak dianggap kecuali jika dibangun diatas dua kalimat syahadat. Keduanya saling berkaitan. Sebuah amal tidak diterima kecuali jika diikhlaskan kepada Allah 'Aza wa Jalla dan sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.

8. Penjelasan tentang agungnya kedudukan rukun Islam. Dimana Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam membimbing Mu'adz radhiyallahu 'anhu untuk melakukannya di samping hal-hal fardhu yang telah diwajibkan oleh Allah 'Aza wa Jalla.

9. Perkara-perkara fardhu tersebut berurutan sesuai urgensi masing-masing.

10. Motivasi untuk melakukan ibadah-ibadah sunnah di samping yang fardhu.

11. Diantara hal terpenting untuk mendekatkan diri kepada Allah 'Aza wa Jalla setelah menunaikan ibadah fardhu adalah sedekah, puasa dan shalat malam.

12. Penjelasan tentang agungnya kedudukan shalat, bahwasanya shalat merupakan tiang agama.

13. Penjelasan tentang keutamaan jihad, bahwa jihad adalah puncak agama.

14. Penjelasan tentang bahaya lidah, bahwa lidah bisa membawa kepada kebinasaan dan neraka.



Sumber:


Kitab "Fathul Qawiyyil Matin fi Syarhil Arba'in wa Tatimmatil Khamsin Lin Nawawi wa Ibni Rajab Rahimahumallah."
Ditulis Oleh: Syaikh 'Abdul Muhsin bin Hamd al-'Abbad al-Badr.
Diterjemahkan oleh:
Abu Habiib Sofyan Saladin.
Dalam Judul Versi Indonesia: "Syarah Hadits Arba'in an-Nawawi" (Plus 8 Hadits Ibnu Rajab).
Penerbit: "Darul Ilmi", Cileungsi-Bogor.

Ringkasan Kitab Riyadhush Shalihin, Bab Wajibnya Taat kepada Para Pemimpin Pada Selain Kemaksiatan dan Larangan Taat kepada Mereka dalam Hal Kemaksiatan.


Bismillaahir rahmaanir rahiim
Assalamu'alaykum wa rahmatullaah wa barakaatuh.


"Innal hamdalillaah nahmaduhu wanasta'iinuhu wanastaghfiruhu wana'uzdubillaahi minsyururi anfusinaa waminsayyi aati 'amaalinaa mayyahdihillaahu falaa mudhillalah wamayyudlil falaa hadiyalah."


"Asyhadu alaa ilaha illallaah wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu warasuuluh laa nabiy ya ba'da."


"Segala puji hanya milik Allah 'Aza wa Jalla, kita memuji-Nya, kita memohon pertolongan kepada-Nya, kita memohon ampun kepada-Nya, dan kita berlindung kepada-Nya dari kejelekan-kejelekan diri kita dan kejelekan amal perbuatan kita. Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah 'Aza wa Jalla maka tidak ada seorangpun yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah 'Aza wa Jalla maka tidak seorangpun yang dapat memberi hidayah kepadanya."


"Aku bersaksi bahwa tidak ada yang patut disembah dengan haq (benar) kecuali Allah 'Aza wa Jalla saja, dan tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya. Dan tidak ada Nabi setelahnya"


Qola Allaahu Ta'ala fii Kitabul Karim: "Yaa ayyuhal ladziina aamanu taqullaaha haqqo tuqootih walaa tamuutunna illaa wa antum muslimun."


Allah Ta'ala berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan beragama Islam."
(QS. Ali Imran: 102).


Wa qola Allaahu Ta'ala: "Yaa ayyuhan naasuttaquu robbakumul ladzii kholaqokum min nafsi wa hidah wa kholaqo minhaa dzaujaha wa batstsa minhuma rijaalan katsiiran wanisaa a wattaqullaah alladzii tasaa aluunabihi wal arhaama innallaaha kaana 'alaikum roqiibaa."


Dan AllahTa'ala berfirman: "Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Robb kalian yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu, daripadanya Allah menciptakan istrinya dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan nama-Nya) kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian."
(QS. An Nisaa: 1).


Wa qola Allaahu Ta'ala: "Yaa ayyuhal ladziina aamanut taqullaah waquuluu qaulan sadiida yushlih lakum a'maalakum wa yaghfir lakum dzunuubakum wamayyuti 'illaah wa rasullahuu waqod faaza fauzan 'adzhiima."


Dan Allah Ta'ala berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah dan katakanlah dengan perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki bagi kalian amal-amal kalian dan mengampuni bagi kalian dosa-dosa kalian. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar."
(QS. Al Ahzab: 70-71).


Amma ba'du, "Fa inna ashdaqol hadiitsi kitaabullaah wa khairal hadi hadi muhammadin shallallaahu 'alaihi wasallam wasyarril umuuri muhdatsaa tuhaa wakulla muhdatsa tin bid'ah wakulla bid'atin dholaalah wakulla dholaalatin fiinnar."


Amma ba'du: "Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam, dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap yang diada-adakan adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah sesat, dan setiap kesesatan ada di neraka."


"Pembahasan Ringkas KITAB RIYADHUSH SHALIHIN"


80. Bab Wajibnya Taat kepada Para Pemimpin Pada Selain Kemaksiatan dan Larangan Taat kepada Mereka dalam Hal Kemaksiatan.


Allah 'Aza wa Jalla berfirman:


"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu."
(QS. An-Nisa': 59).


'Taatilah Allah', yakni ikutilah kitab-kitab-Nya. 'Dan taatilah Rasul-Nya', yakni ambillah sunnah-sunnahnya. 'Dan ulil amri di antara kamu,' yakni dalam hal apa saja yang mereka perintahkan selama dalam ketaatan kepada Allah, bukan dalam kemaksiatan. Sebab tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal kemaksiatan kepada Sang Pencipta.


1/663.
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda, "Setiap muslim wajib mendengar dan taat dalam perkara-perkara yang ia sukai atau ia benci, kecuali jika ia diperintah dengan suatu kemaksiatan. Jika ia diperintah dengan suatu kemaksiatan maka tidak ada kewajiban baginya untuk mendengar dan taat."
[Muttafaqun 'alaih].
[Shahih: Al-Bukhari (2955); Muslim (1839); Abu Dawud (2626); At-Tirmidzi (1707)].


Penjelasan hadits:


Hadits ini sebagai dalil kewajiban mendengar, taat dan patuh kepada perintah ulil amri baik ia setuju dengan maksud perintah itu ataupun tidak setuju, kecuali dalam hal kemaksiatan kepada Allah 'Aza wa Jalla.


2/664.
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata, "Dahulu, jika kami berbaiat kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam untuk mendengar dan taat, maka beliau Shallallahu 'alaihi wasallam selalu mengucapkan kepada kami, 'Semaksimal kemampuan kalian'."
[Muttafaqun 'alaih].
[Shahih: Al-Bukhari (7202); Muslim (1867)].


Penjelasan hadits:


Hadits ini diterangkan bahwa kewajiban untuk mendengar dan taat itu berdasarkan kepada ukuran maksimal kemampuan. Allah 'Aza wa Jalla berfirman:


"Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah."
(QS. At-Taghabun: 16).


3/665.
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma juga, ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Barangsiapa melepas tangannya dari ketaatan, maka ia akan menemui Allah pada hari Kiamat dengan tidak memiliki hujjah. Barangsiapa mati dalam keadaan tidak berbaiat, maka ia mati seperti mati jahiliyyah'."
[HR. Muslim].
[Shahih: Muslim (1851)].


Penjelasan hadits:


Dalam riwayat Muslim yang lain disebutkan:


"Dan barangsiapa mati dengan memisahkan diri dari jamaah, maka ia mati dalam keadaan jahiliyyah."


Hadits ini sebagai ancaman keras bagi orang memberontak seorang imam dan tidak mau tunduk kepadanya, dan sebagai kewajiban untuk berbaiat kepada imam.


4/666.
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Dengar dan taatlah kalian, meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak Habasyi yang rambutnya seperti buah kismis'."
[HR. Al-Bukhari].
[Shahih: Al-Bukhari (693, 696, 7142)].


Penjelasan hadits:


Dahulu, orang-orang jahiliyyah tidak suka melakukan ketaatan, khususnya bangsa Arab. Lalu Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam memberitahukan kepada mereka bahwa ketaatan itu wajib dilakukan kepada setiap pemimpin meski ia berkedudukan rendah.


5/667.
Dari Aburairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Hendaklah kalian selalu mendengar dan taat baik dalam keadaan susah maupun tenang, dalam perkara yang disukai dan dibenci dan dalam hal yang bisa jadi merugikan kepentinganmu'."
[HR. Muslim].
[Shahih: Muslim (1836); An-Nasa'i (7/140)].


Penjelasan hadits:


Hadits ini sebagai dalil kewajiban untuk mendengar dan taat kepada para pemimpin dalam setiap keadaan. Dan, seandainya mereka mengkhususkan pemberian harta kepada orang yang tidak berhak mendapatkannya, maka sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban mereka tentang hal itu.


6/668.
Dari 'Abdullah bin 'Amru radhiyallahu 'anhuma, ia berkata, "Kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dalam suatu perjalanan dan singgah di suatu tempat persinggahan. Di antara kami ada yang memperbaiki tenda, ada yang berlatih memanah, dan ada yang menggembalakan hewan-hewan ternaknya. Tiba-tiba terdengar utusan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menyeru, 'Ash-Shalatu Jami'ah' (Sholat berjama'ah), maka kami pun berkumpul di dekat beliau. Lalu beliau bersabda, 'Tidak ada seorang nabi pun sebelum aku diutus melainkan ia berhak menuntun umatnya kepada kebaikan yang telah ia ketahui, dan mengingatkan mereka tentang keburukan yang ia ketahui. Sesungguhnya, umat kalian yang diselamatkan ialah generasi yang pertama-tama, dan generasi sesudah itu akan ditimpa berbagai ujian dan perkara-perkara yang tidak kalian senangi. Ketika fitnah itu datang, satu dengan yang lainnya saling mencela. Ketika fitnah datang, maka seorang Mukmin berkata, 'Inilah yang membinasakanku.' Kemudian muncul pula fitnah yang lain, dan orang Mukmin berkata, 'Ini, Ini!' Karena itu, barangsiapa yang ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga, hendaklah ketika kematian mendatanginya, ia dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hendaklah ia berbuat kepada umat manusia dengan apa yang memang disenangi mereka. Barangsiapa yang membaiat seorang imam lalu ia memenuhi baiatnya dengan sepenuh hati, hendaklah ia mentaatinya semaksimal kemampuannya. Jika yang lain datang memberontak maka penggallah lehernya'."
[HR. Muslim].
[Shahih: Muslim (1844)].


Penjelasan hadits:


Sabda beliau Shallallahu 'alaihi wasallam, 'Umat kalian yang diselamatkan ialah generasi yang pertama-tama', dijelaskan oleh Al-Qurthubi, ia berkata, "Yang dimaksud adalah masa kepemimpinan tiga Khulafa' Ar-Rasyidin sampai terbunuhnya Utsman. Sebab, masa ini merupakan masa bersatunya umat, lurusnya urusan umat, serta kuatnya agamanya. Kemudian sesudah terbunuhnya Utsman maka beragam fitnah pun muncul dan akan senantiasa terus ada hingga hari kiamat."


Sabda beliau, 'Hendaklah ia berbuat kepada umat manusia dengan apa yang memang disenangi mereka', dijelaskan oleh An-Nawawi, ia berkata, "Ini merupakan salah satu dari jawami'ul kalam dan keindahan keputusan beliau. Ini merupakan kaidah yang harus diperhatikan, yaitu bahwa manusia harus berusaha untuk melakukan suatu perbuatan terhadap orang lain dengan yang mereka senangi."


Hadits ini sebagai dalil kewajiban taat kepada imam dan memerangi siapa saja yang memberontak imam.


7/669.
Dari Abu Hunaidah Wail bin Hujr radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Salamah bin Yazid Al-Ju'fiy pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, dengan berkata, 'Wahai Nabi Allah, bagaimana pendapatmu bila para penguasa yang memimpin kami selalu menuntut hak mereka atas kami, namun mereka menahan hak kami. Apa yang anda perintahkan kepada kami?" Maka beliau Shallallahu 'alaihi wasallam pun berpaling. Kemudian ia bertanya lagi kepada beliau. Maka beliau pun bersabda, 'Dengarkan dan taatilah, karena mereka akan mempertanggungjawabkan apa saja yang telah mereka perbuat dan kalian juga akan mempertanggungjawabkan semua yang pernah kalian perbuat'."
[HR. Muslim].
[Shahih: Muslim (1846)].


Penjelasan hadits:


Hadits ini sebagai dalil wajibnya mendengar dan taat kepada para pemimpin, sekalipun mereka tidak menunaikan hak rakyatnya.


8/670.
Dari 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Sungguh, sepeninggalku akan ada penguasa-penguasa negara yang mementingkan diri sendiri dan membuat kebijaksanaan-kebijaksanaan yang tidak kalian sukai.'  Para shahabat bertanya, 'Wahai Rasulullah, apa yang anda perintahkan kepada orang-orang di antara kami yang mengalami hal tersebut?' Beliau menjawab, 'Tunaikanlah kewajiban kalian dan mintalah hak kalian kepada Allah'."
[Muttafaqun 'alaih].
[Shahih: Al-Bukhari (3603, 7052); Muslim (1843); At-Tirmidzi (2191)].


Kosakata asing:


(Al-Atsaratu) ialah monopoli para penguasa terhadap harta orang-orang yang lebih berhak mendapatkannya. Peristiwa ini sudah nyata terjadi. Dan ini termasuk dalam mu'jizat Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam.


Penjelasan hadits:


Hadits ini sebagai dalil atas larangan menentang para pemimpin, sekalipun mereka menyimpang, serta sebagai dalil atas ketergantungan diri kepada balasan dari Allah 'Aza wa Jalla.


9/671.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Barangsiapa menaatiku maka ia telah menaati Allah, barangsiapa mendurhakaiku maka ia telah mendurhakai Allah, barangsiapa menaati seorang pemimpin maka ia telah menaatiku, dan barangsiapa mendurhakai seorang pemimpin maka ia telah mendurhakaiku'."
[Muttafaqun 'alaih].
[Shahih: Al-Bukhari (7053); Muslim (1849); Ahmad (1/275, 277, 310)].


Penjelasan hadits:


Hadits ini menerangkan tentang wajibnya taat kepada para pemimpin dan haramnya menentang mereka.
Allah 'Aza wa Jalla berfirman:


"Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka."
(QS. An-Nisa': 80).


10/672.
Dari 'Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa membenci sesuatu dari diri pemimpinnya hendaklah ia bersabar. Sebab barangsiapa yang keluar dari kepemimpinan meski sejengkal maka ia mati seperti mati jahiliyyah."
[Muttafaqun 'alaih].
[Shahih: Al-Bukhari (2957); Muslim (1835); An-Nasa'i (7/154)].


Penjelasan hadits:


Hadits ini sebagai anjuran untuk bersabar menghadapi penyimpangan para pemimpin, serta anjuran untuk menaati dan tidak memberontak mereka.


11/673.
Dari Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Barangsiapa merendahkan pemimpin (Allah di bumi) maka Allah akan merendahkannnya'."
[HR. At-Tirmidzi, dan ia berkata, "Hadits ini hasan"].
[Hasan: Ahmad (5/43); At-Tirmidzi (2225). Dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Kitab Ash-Shahihah (2296), dan Kitab Shahih Al-Jami'  (6111)].


Penjelasan hadits:


Mengenai pembahasan ini, terdapat banyak sekali hadits di dalam Kitab Shahih, dan sebagiannya telah disebutkan dalam beberapa pembahasan di Kitab Riyadhush Shalihin sebelum bab ini.


Hadits ini sebagai ancaman keras bagi orang yang merendahkan kedudukan pemimpin serta tidak mau mendengar dan menaati perintahnya.


Wa Allahu Ta'ala a'lam.
Wassalamu'alaykum wa rahmatullah wa barakatuh.


Sumber:

Kitab 'RIYADHUSH SHALIHIN' - Imam An-Nawawi Rahimahullaahu Ta'ala.
Syarah: Syaikh Faishal Alu Mubarak.
Takrij: Syaikh Nasiruddin Al-Albani.
Alih bahasa: Tim Penterjemah UMMUL QURA.
Penerbit: Ummul Qura - Jkt.

Sabtu, 28 Mei 2016

Ringkasan KITAB RIYADHUSH SHALIHIN, Bab Karamah dan Keutamaan Para Wali


Bismillaahir rahmaanir rahiim
Assalamu'alaykum wa rahmatullaah wa barakaatuh.


"Innal hamdalillaah nahmaduhu wanasta'iinuhu wanastaghfiruhu wana'uzdubillaahi minsyururi anfusinaa waminsayyi aati 'amaalinaa mayyahdihillaahu falaa mudhillalah wamayyudlil falaa hadiyalah."


"Asyhadu alaa ilaha illallaah wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu warasuuluh laa nabiy ya ba'da."


"Segala puji hanya milik Allah 'Aza wa Jalla, kita memuji-Nya, kita memohon pertolongan kepada-Nya, kita memohon ampun kepada-Nya, dan kita berlindung kepada-Nya dari kejelekan-kejelekan diri kita dan kejelekan amal perbuatan kita. Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah 'Aza wa Jalla maka tidak ada seorangpun yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah 'Aza wa Jalla maka tidak seorangpun yang dapat memberi hidayah kepadanya."


"Aku bersaksi bahwa tidak ada yang patut disembah dengan haq (benar) kecuali Allah 'Aza wa Jalla saja, dan tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya. Dan tidak ada Nabi setelahnya"


Qola Allaahu Ta'ala fii Kitabul Karim: "Yaa ayyuhal ladziina aamanu taqullaaha haqqo tuqootih walaa tamuutunna illaa wa antum muslimun."


Allah Ta'ala berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan beragama Islam."
(QS. Ali Imran: 102).


Wa qola Allaahu Ta'ala: "Yaa ayyuhan naasuttaquu robbakumul ladzii kholaqokum min nafsi wa hidah wa kholaqo minhaa dzaujaha wa batstsa minhuma rijaalan katsiiran wanisaa a wattaqullaah alladzii tasaa aluunabihi wal arhaama innallaaha kaana 'alaikum roqiibaa."


Dan AllahTa'ala berfirman: "Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Robb kalian yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu, daripadanya Allah menciptakan istrinya dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan nama-Nya) kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian."
(QS. An Nisaa: 1).


Wa qola Allaahu Ta'ala: "Yaa ayyuhal ladziina aamanut taqullaah waquuluu qaulan sadiida yushlih lakum a'maalakum wa yaghfir lakum dzunuubakum wamayyuti 'illaah wa rasullahuu waqod faaza fauzan 'adzhiima."


Dan Allah Ta'ala berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah dan katakanlah dengan perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki bagi kalian amal-amal kalian dan mengampuni bagi kalian dosa-dosa kalian. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar."
(QS. Al Ahzab: 70-71).


Amma ba'du, "Fa inna ashdaqol hadiitsi kitaabullaah wa khairal hadi hadi muhammadin shallallaahu 'alaihi wasallam wasyarril umuuri muhdatsaa tuhaa wakulla muhdatsa tin bid'ah wakulla bid'atin dholaalah wakulla dholaalatin fiinnar."


Amma ba'du: "Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam, dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap yang diada-adakan adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah sesat, dan setiap kesesatan ada di neraka."


Ringkasan "KITAB RIYADHUSH SHALIHIN"

Bab (253) Karamah dan Keutamaan Para Wali.


Allah 'Aza wa Jalla berfirman:


"Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah. Demikian itulah kemenangan yang agung."
(QS. Yunus: 62-64).


Karamah adalah kejadian luar biasa. Wali adalah orang yang taat kepada Allah 'Aza wa Jalla. Siapa pun yang bertakwa, dia adalah wali Allah.


Ibnu Abbas dan lainnya berkata, "Para wali Allah adalah orang-orang yang jika dilihat, mereka mengingatkan kepada Allah."


Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Sungguh, diantara hamba-hamba Allah, ada sebagian yang para nabi dan syuhada iri pada mereka.' Beliau ditanya, 'Siapa mereka, wahai Rasulullah, agar kami mencintai mereka.' Beliau menjawab, 'Mereka adalah suatu kaum yang saling mencintai karena Allah, bukan karena (ikatan) harta benda ataupun nasab. Wajah-wajah mereka cahaya, (mereka berada) di atas mimbar-mimbar dari cahaya, mereka tidak takut ketika semua orang takut, tidak bersedih ketika semua orang bersedih.' Setelah itu beliau membaca, 'Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati'." (QS. Yunus: 62-64).
[HR. Ibnu Jarir dan lainnya].


Dari Abu Darda' radhiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam terkait firman-Nya 'Aza wa Jalla, "Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat." (QS. Yunus: 64). Beliau Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Mimpi baik yang dialami seorang muslim, atau diimpikan orang lain untuknya." (HR. Ahmad).


Allah 'Aza wa Jalla berfirman:


"Sesungguhnya orang-orang yang berkata, 'Tuhan kami adalah Allah,' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), 'Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.' Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya (surga) kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh apa yang kamu minta. Sebagai penghormatan (bagimu) dari (Allah) Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang'."
(QS. Fushshilat: 30-32).


Firman-Nya, "Tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah." (QS. Yunus: 64). Yaitu tidak ada perubahan bagi firman-Nya, dan tidak ada pelanggaran pada janji-Nya. "Demikian itulah kemenangan yang agung." (QS. Yunus: 62-64).


Allah 'Aza wa Jalla berfirman:


"Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan mengugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makan, minum dan bersenang-hatilah engkau."
(QS. Maryam: 25-26).


Ini termasuk hal-hal luar biasa. Ini adalah karamah Maryam 'Alaihissalam.
Melalui firman-Nya 'Aza wa Jalla:


"Maka dia (Maryam) menunjuk kepada (anak) nya. Mereka berkata, 'Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?' Dia (Isa) berkata, 'Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi'." (QS. Maryam: 29-30), Allah 'Aza wa Jalla mengisyaratkan Isa untuk berbicara kepada kaumnya saat masih bayi, sebagai pertanda kebenaran nubuwah kelak, juga sebagai karamah Maryam.


Allah 'Aza wa Jalla berfirman:


"Setiap kali Zakaria masuk menemuinya di mihrab (kamar khusus ibadah), dia dapati makanan disisinya. Dia berkata, 'Wahai Maryam! Dari mana ini engkau peroleh?' Dia (Maryam) menjawab, 'Itu dari Allah.' Sesungguhnya Allah memberi rizki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan'."
(QS. Ali 'Imran: 37).


Ada yang mengatakan, Zakaria melihat buah-buahan musim dingin saat musim panas di dekat Maryam, dan buah-buahan musim panas saat musim dingin. Ada sejumlah karamah dalam kisah Maryam, di antaranya; hamil tanpa suami, mendapatkan kurma basah dan segar dari pelepah pohon kurma yang kering, rizki datang menghampirinya di luar musimnya. Maryam bukan seorang nabi.


Allah 'Aza wa Jalla berfirman:


"Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusanmu. Dan engkau akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan apabila matahari itu terbenam, menjauhi mereka ke sebelah kiri."
(QS. Al-Kahfi: 16-17).


Sebagian mufassir menjelaskan, Allah memalingkan matahri dari mereka dengan kuasa-Nya, menghalangi matahari untuk menyengat mereka, karena pintu gua berada di sisi di mana sinar matahari tepat mengenai sisi tubuh mereka. Ini adalah karamah mereka, seperti yang Allah 'Aza wa Jalla sampaikan, "Itulah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah," karena Allah menunjukkan mereka untuk bersembunyi di gua tersebut dan mengalihkan berbagai hal berbahaya dari mereka.
Tinggal di dalam gua selama tigaratus tahun lebih, tidur selama itu dalam kondisi masih hidup tanpa tertimpa penyakit apa pun, dan energi normal mereka tetap stabil meski tanpa makan ataupun minum, ini termasuk bagian dari hal-hal luar biasa.


1/1503.
Dari Abu Muhammad Abdurrahman bin Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhuma , "Ashabush shuffah adalah orang-orang fakir. Suatu ketika, Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Siapa memiliki makanan dua orang, hendaklah mengajak orang ketiga. Siapa memiliki makanan empat orang, hendaklah mengajak orang kelima dan keenam', atau seperti yang beliau sabdakan.


Abu Bakar radhiyallahu 'anhu membawa tiga orang, sementara Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam membawa sepuluh orang. Abu Bakar makan malam di tempat Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, setelah itu bertahan di sana hingga shalat Isya', setelah itu pulang. Setelah berlalu sebagian dari malam hari seperti yang dikehendaki, Abu Bakar datang. Istrinya bertanya padanya, 'Apa yang menghalangimu untuk melayani tamu-tamumu?' Abu Bakar bertanya, 'Bukankah kau sudah memberi mereka makan malam?' Istrinya menjawab, 'Mereka enggan (makan) sebelum kau datang. Pihak keluarga sudah menawarkan mereka untuk makan'."


Abdurrahman meneruskan, "Aku kemudian pergi dan bersembunyi. Abu Bakar memanggil, 'Hai orang bodoh!' Abu Bakar kemudian mencaci dan mencela, setelah itu berkata, 'Makanlah kalian, tidak dengan nikmat. Demi Allah, aku tidak akan memberinya makan selamanya'. Abdurrahman berkata, 'Demi Allah, setiap kali kami mengambil satu suap makan, dari bawahnya muncul makanan lebih banyak lagi hingga mereka semua kenyang, dan makanan menjadi lebih banyak dari sebelumnya.'


Abu Bakar melihat makanan itu lalu bertanya kepada istrinya, 'Hai orang Bani Firas, apa ini?' Ia menjawab, 'Duhai penyejuk mata hatiku! Makanan itu saat ini lebih banyak tiga kali dari sebelumnya!' Abu Bakar kemudian memakan sebagiannya, lalu berkata, 'Itu tadi -sumpah maksudnya- hanya dari setan.' Setelah memakan satu suap, ia membawa makanan itu untuk Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam hingga pagi hari. Saat itu, antara kami dan suatu kaum terikat suatu perjanjian, lalu batas waktunya berakhir. Kami kemudian berpencar, jumlah kami ada dua belas orang, masing-masing di antara mereka membawa beberapa orang. Allah 'Aza wa Jalla lebih tahu, berapa jumlah orang yang dibawa oleh masing-masing dari duabelas orang tersebut. Mereka semua memakan makanan tersebut'."


Riwayat lain menyebutkan:


"Abu Bakar kemudian bersumpah untuk tidak memberinya makan, istri Abu Bakar juga bersumpah untuk tidak memberinya makan. Tamu -atau para tamu- bersumpah tidak makan sebelum ia makan. Abu Bakar kemudian berkata, 'Itu tadi -sumpah maksudnya- dari setan!' Ia kemudian meminta makanan, lalu makan, dan para tamu ikut makan. Setiap kali mereka mengangkat sesuap makan, dari bagian bawahnya muncul makanan lebih banyak, lalu Abu Bakar berkata, 'Hai orang Bani Firas! Apa ini?' Istrinya menjawab, 'Duhai penyejuk mata hatiku! Makanan ini saat ini lebih banyak dari sebelum kita makan.' Mereka kemudian makan, lalu Abu Bakar mengirim makanan tersebut kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam , ia bilang bahwa ia sudah makan sebagian'."


Riwayat lain menyebutkan:


Abu Bakar berkata kepada Abdurrahman, "Uruslah tamu-tamumu, aku akan pergi menemui Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam , berilah mereka makan sebelum aku pulang.' Abdurrahman kemudian pergi lalu datang membawakan makanan untuk mereka, ia berkata, 'Silahkan kalian makan!' Mereka bertanya, 'Mana tuan rumah kita?' Abdurrahman berkata, 'Makanlah!' Mereka berkata, 'Kami tidak akan makan sebelum tuan rumah kami pulang.' Abdurrahman kembali berkata, 'Terimalah jamuan kalian ini, karena jika dia (Abu Bakar) pulang sementara kalian belum makan, kami pasti dimarahi.' Mereka tetap enggan makan. Aku tahu, dia (Abu Bakar) pasti marah padaku. Saat Abu Bakar pulang, aku menjauh lalu ia bertanya, 'Apa yang sudah kalian lakukan?'


Mereka memberitahu kepada Abu Bakar. Abu Bakar kemudian memanggil, 'Abdurrahman!' Aku diam. Ia kembali memanggil, Abdurrahman!' Aku diam. Setelah itu Abu Bakar berkata, 'Wahai orang bodoh! Aku bersumpah padamu jika kau mendengar suaraku, datanglah!' Aku kemudian keluar (dari persembunyian) lalu aku berkata, 'Tanyakan pada tamumu!' Mereka berkata, 'Dia benar, dia sudah membawakan makanan untuk kami.' Abu Bakar berkata, 'Mereka menungguku (pulang). Demi Allah, aku tidak akan memberinya makan malam ini.' Yang lain berkata, 'Demi Allah, kami tidak akan makan sebelum kau memberinya makan.' Abu Bakar kemudian berkata, 'Apa-apaan kalian ini! Kenapa kalian tidak menerima jamuan makan kami? Bawa kemari makananmu.' Abdurrahman kemudian membawa makanan dan ia letakkan di hadapan Abu Bakar, ia membaca basmalah, 'Bismillaah. Yang tadi -sumpah maksudnya- adalah dari setan.' Abu Bakar makan, mereka kemudian makan'."
(Muttafaqun 'alaih).
[Shahih: Al-Bukhari (3581), Muslim (2057) dan Ahmad (1/198)].


Kosakata asing dalam hadits ini:


(Ghuntsaru) artinya orang bodoh dan jahil.
(Fajadda'a) artinya mencaci. Makna asal (Ajadda') adalah memotong.
(Yajidu 'alayya) yaitu marah kepadaku.


Penjelasan hadits:


Hadits ini menunjukkan karamah nyata Abu Bakar radhiyallahu 'anhu.


2/1504.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Sungguh, di antara umat-umat sebelum kalian, ada sejumlah orang yang mendapat ilham. Jika pun seseorang (yang diberi ilham) di antara umatku, maka Umar-lah (orangnya)'."
[HR. Al-Bukhari].
[Shahih: Al-Bukhari (3689) dan Muslim (2398)].


Penjelasan hadits:


Juga diriwayatkan Muslim dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha.
Disebutkan dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim; Ibnu Wahab berkata, "Muhaddatsun yaitu orang-orang yang diberi ilham."


Muhaddats adalah orang yang benar dugaannya. Sesuatu dari golongan tertinggi dihujamkan ke dalam hatinya. Riwayat At-Tirmidzi menyebutkan; "Sungguh, Allah menjadikan kebenaran sesuai lisan dan hati Umar."


Hadits lain; "Andai setelahku ada nabi, tentu Umar-lah (orangnya)."
Hadits ini menunjukkan karamah nyata Umar radhiyallahu 'anhu.


Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata, "Saat Utsman berkhotbah, tiba-tiba Jahjah Al-Ghifari berdiri menghampirinya, ia merebut tongkat dari tangan Utsman lalu ia patahkan dengan lututnya, lalu ada potongan kayu yang menyusup ke lututnya, akhirnya kanker masuk ke lututnya."


Diriwayatkan dari Hasan bin Ali, ia berkata, "Ali berkata, 'Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengusap punggungku pada suatu malam dalam mimpiku, lalu aku bertanya, 'Apa yang harus aku lakukan terhadap umatmu yang memberontak dan memusuhi (ku)?' Beliau menjawab, 'Do'akan keburukan kepada mereka.' Aku berdo'a, 'Ya Allah, berilah aku pengganti orang-orang yang lebih baik dari mereka, dan berilah mereka pengganti pemimpin yang lebih buruk dariku.' Ali kemudian keluar rumah, lalu ia ditikam seseorang'." Keduanya diriwayatkan Ibnu Sayyidinnas.


Kedua riwayat ini menunjukkan karamah Khalifah Utsman dan Ali radhiyallahu 'anhuma.


3/1505.
Dari Jabir bin Samurah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Penduduk Kufah mengadukan Sa'ad -Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallahu'anhuma- kepada Umar bin Khaththab radhiyallahu'anhu, lalu Umar mencopotnya, dan menunjuk Ammar untuk memimpin mereka (sebagai pengganti Sa'ad). Mereka mengadukan, bahkan mereka mengatakan Sa'ad tidak bisa shalat dengan baik. Umar kemudian mengirim utusan untuk menemui Sa'ad. Utusan berkata, 'Wahai Abu Ishaq, mereka mengatakan bahwa kau tidak shalat dengan baik.' Sa'ad berkata, 'Demi Allah, aku mengimami mereka seperti shalatnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, aku tidak menyimpang dari itu. Aku shalat Isya', aku memanjangkan dua rakaat pertama, dan aku ringankan dua rakaat berikutnya.'


Utusan umar berkata, 'Itulah dugaan yang diarahkan kepadamu, wahai Abu Ishaq.' Bersama utusan ini, Umar juga mengirim seseorang -atau beberapa orang- ke Kufah untuk menanyakan kepada penduduk Kufah perihal Sa'ad. Utusan ini selalu bertanya di setiap masjid. Mereka semua memberikan pujian baik, hingga utusan memasuki masjid Bani Abas. Seseorang diantara mereka kemudian berdiri, ia bernama Usamah bin Qatadah, kuniah-nya Abu Sa'ad. Ia berkata, 'Karena kau menyumpah kami (baik kami akan berkata sejujurnya) Sa'ad tidak pernah ikut bersama pasukan dan tidak membagi secara merata, dan tidak adil dalam memutuskan perkara.'


Sa'ad kemudian berkata, 'Demi Allah, aku akan mengucapkan tiga do'a; ya Allah! Jika hamba-Mu ini berdusta, jika dia berdiri karena riya' dan sum'ah, maka panjangkan umurnya, panjangkan kemiskinannya, dan timpakan fitnah-fitnah kepadanya.' Setelah itu, setiap kali ia ditanya, ia selalu menjawab, 'Aku orang tua renta yang terkena fitnah. Aku tertimpa do'a Sa'ad'."


Abdul Malik bin Umair, perawi hadits ini dari Jabir bin Samurah, berkata, "Aku melihatnya dengan dua alis sudah menjulur ke bawah menutupi kedua matanya karena sangat tua. Ia menggoda gadis-gadis remaja di jalanan, mengedipkan mata kepada mereka."
[Muttafaqun 'alaih].
[Shahih: Al-Bukhari (755) dan Muslim (453)].


Penjelasan hadits:


Hadits ini menunjukkan karamah nyata Sa'ad bin Abi Waqqash.


4/1506.
Dari Urwah bin Zubair radhiyallahu 'anhu, bahwa Arwa binti Aus memperkarakan Sa'id bin Zaid bin Amr bin Nufail radhiyallahu 'anhu dihadapan Marwan bin Hakam. Arwa menuduh Sa'id mengambil sebagian dari tanah miliknya. Sa'id kemudian berkata, "Patutkah aku mengambil sedikit pun dari tanahnya setelah aku mendengar sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam itu?' Marwan bertanya, 'Apa yang kau dengar dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam ?' Sa'id menjawab, 'Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Siapa mengambil sejengkal tanah secara zalim, tanah itu dikalungkan kepadanya hingga tujuh bumi.' Marwan kemudian berkata kepada Sa'id, 'Aku tidak akan meminta bukti apa pun kepadamu setelah (sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam) ini.' Sa'id kemudian berdo'a, 'Ya Allah! Jika wanita itu berdusta, maka butakan matanya dan bunuhlah dia ditanahnya.' Urwah berkata, 'Sebelum mati, wanita itu buta. Saat ia berjalan di tanahnya, tiba-tiba ia jatuh di sebuah lubang dan mati'."
(Muttafaqun 'alaih).


Penjelasan hadits:


Kisah serupa juga disebutkan dalam riwayat Muslim dari Muhammad bin Zaid bin Abdullah bin Umar. Urwah melihat wanita tersebut dalam kondisi buta, ia meraba-raba dinding seraya mengatakan, "Aku terkena do'a Sa'id." Ia melintas di sebuah sumur di tanah yang ia sengketakan, ia jatuh ke dalam sumur itu, dan sumur itu menjadi kuburan baginya. Hadits ini menunjukkan karamah nyata Sa'id bin Zaid radhiyallahu 'anhu.


5/1507.
Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Saat perang Uhud tiba, pada malam hari menjelang perang ini, ayahku memanggilku, ia berkata, "Menurutku, aku orang pertama yang terbunuh di antara shahabat-shahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam. Sungguh, aku tidak meninggalkan sesuatu pun yang lebih aku cintai melebihimu, kecuali nyawa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, dan aku meninggalkan utang, maka bayarkanlah utang itu. Dan perlakukan saudari-saudarimu dengan baik.' Pada pagi harinya, ayahku adalah korban tewas pertama. Aku mengubur orang lain bersama ayah di makamnya. Setelah itu, aku merasa tidak berkenan membiarkan ayahku bersama orang lain, aku kemudian mengeluarkan jenazah ayahku enam bulan setelah itu. Rupanya jenazah ayah masih seperti pada hari saat aku meletakkannya (di dalam kubur), kecuali telinganya. Aku kemudian menempatkan ayahku di kuburan secara terpisah'."
(HR. Al-Bukhari).
[Shahih: Al-Bukhari (1351) dan Al-Hakim (3/203)].


Penjelasan hadits:


Hadits ini menjelaskan karamah nyata Abdullah, ayahnya Jabir radhiyallahu 'anhu.


6/1508.
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, dua shahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam pulang dari tempat Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam di tengah malam gelap, bersama keduanya ada seperti dua lampu di depan mereka berdua. Saat keduanya berpisah, masing-masing di antara keduanya disertai satu lampu, hingga tiba di rumah.
[Shahih: Al-Bukhari (3805)].
Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini dari sejumlah jalur. Sebagian di antaranya menyebutkan bahwa dua shahabat yang dimaksud adalah Usaid bi Hudhair dan Abbad bin Bisyr radhiyallahu 'anhuma.


Penjelasan hadits:


Hadits ini menunjukkan karamah nyata Usaid bin Hudhair dan Abas bin Bisyr radhiyallahu 'anhuma.


7/1509.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengirim sepuluh orang sebagai mata-mata dan menunjuk Ashim bin Tsabit Al-Anshari sebagai pemimpin regu. Mereka pergi hingga tiba di Had'ah antara Usfan dan Mekkah. Kabar mereka ini disampaikan kepada salah satu perkampungan Hudzail bernama perkampungan Bani Lahyan. Mereka kemudian mengirim hampir sekitar seratus pemanah. Mereka mencari jejak utusan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam ini. Ketika Ashim dan shahabat-shahabatnya merasa dibuntuti, mereka berlindung di suatu tempat. Mereka kemudian dikepung musuh, mereka berkata, "Turunlah kalian dan menyerahlah, kami berjanji tidak akan membunuh seorang pun di antara kalian.


Ashim bin Tsabit berkata, 'Wahai kaum! Aku tidak akan turun dengan jaminan orang kafir. Ya Allah! Sampaikan kepada nabi-Mu tentang kami.' Mereka menghujani anak panah hingga Ashim gugur. Tiga diantaranya turun dengan jaminan orang-orang kafir, mereka adalah Khubaib, Zaid bin Datsinah dan seorang lainnya. Setelah mereka menangkap ketiganya ini, mereka melepas tali busur lalu mengikat ketiganya. Orang yang ketiga lalu berkata, 'Ini pengkhianatan pertama. Demi Allah, aku tidak akan menemani kalian. Sungguh, mereka (teman-temannya yang sudah gugur) adalah teladan baik bagiku.' Mereka kemudian menyeretnya, ia tidak mau berteman dengan kedua rekannya, mereka kemudian membunuhnya. Mereka membawa Khubaib dan Zaid bin Datsinah lalu mereka jual di Mekkah selepas perang Badar.


Bani Harits bin Amir bin Naufal bin Abdi Manaf membeli Khubaib. Khubaib sebelumnya membunuh Harits saat perang Badar. Khubaib ditawan, hingga mereka sepakat untuk membunuhnya. Khubaib kemudian meminjam pisau kepada salah satu putri Harits untuk mencukur rambut kemaluan. Putri Harits meminjami Khubaib pisau. Saat lengah, anak kecil putri Harits ini masuk ke tempat Khubaib. Ia merasa takut sekali ketika anaknya berada di atas paha Khubaib yang tengah memegang pisau, lalu Khubaib berkata, 'Apa kau takut anakmu ini aku bunuh. Aku tidak akan melakukan tindakan seperti itu!' Putri Harits berkata, 'Demi Allah, belum pernah aku melihat tawanan yang lebih baik dari Khubaib. Demi Allah, suatu ketika aku mendapati Khubaib memakan setandan anggur di tangannya saat ia tengah dirantai, padahal saat itu di Mekkah tidak ada buah apa pun.' Ia berkata, 'Itu adalah rizki yang Allah berikan kepada Khubaib.'


Saat mereka membawa Khubaib keluar dari tanah Haram untuk mereka bunuh, Khubaib berkata kepada mereka, 'Biarkan aku shalat dua rakaat dulu.' Mereka membiarkannya, lalu ia shalat dua rakaat. Ia berkata, 'Demi Allah, kalau saja bukan kalian mengira aku melakukan ini karena takut mati, pasti aku shalat lebih banyak lagi.' Setelah itu Khubaib berdo'a, 'Ya Allah, hitunglah jumlah mereka, binasakan mereka semua, dan jangan sampai Kau biarkan seorang pun di antara mereka tetap hidup.' Ia kemudian bersyair;


Aku tiada perduli kala terbunuh sebagai seorang Muslim
Di atas lambung mana pun aku terbaring mati karena Allah
itu sepenuhnya karena Zat Ilah, jika berkehendak
Ia akan memberkahi bagian-bagian tubuh yang terurai ini


Khubaib memberi contoh kepada setiap muslim untuk shalat terlebih dahulu sebelum dibunuh.
Saat khubaib dan rekan-rekannya terbunuh, Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam menyampaikan kabar mereka ini kepada para shahabat. Quraisy mengirim beberapa orang untuk menemui Ashim bin Tsabit kala mereka mendapat kabar bahwa Khubaib telah dibunuh, mereka meminta diberi suatu tanda yang dikenal sebagai bukti bahwa Khubaib telah dibunuh, karena Khubaib sebelumnya telah membunuh salah seorang pembesar mereka. Allah kemudian mengirim sekawanan lebah seperti awan lalu melindungi jasad Khubaib dari utusan Quraisy ini, sehingga mereka tidak mampu memotong sedikit pun bagian tubuhnya'."
(HR. Al-Bukhari).
[Shahih: Al-Bukhari (4086)].


Penjelasan hadits:


(Had'ah) adalah nama sebuah tempat.
(Zhullah) : awan.
(Dabr) : lebah.
Do'a khubaib, "Uqtulhum bidada," bisa dibaca bidada atau badada.  Bidada adalah jamak dari biddah, artinya bagian.
Maksudnya, bunuhlah mereka dengan bagian masing-masing, setiap orang di antara mereka mendapatkan bagian tertentu. Sementara badada artinya terpisah, maksudnya terbunuh satu persatu secara terpisah. Badada berasal dari akar kata tabdid (tercerai-berai).


Disebutkan dalam Al-Qamus; dabar adalah sekawanan lebah dan kumbang.


Hadits ini menunjukkan karamah nyata Khubaib dan Ashim bin Tsabit radhiyallahu 'anhuma.


Masih banyak hadits shahih lain terkait masalah ini telah disebutkan di tempatnya tersendiri dalam Kitab Riyadhush Shalihin, di antaranya hadits seorang pemuda yang berguru kepada seorang rahib dan tukang sihir, hadits Juraij, hadits para penghuni gua yang tertutup oleh batu besar, hadits seseorang yang mendengar suara di awan yang mengatakan, "Hujanilah kebun si fulan," dan hadits-hadits lain. Dalil-dalil dalam masalah ini banyak dan familiar. Billahit tawfiq.


8/1510.
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Tidaklah aku mendengar Umar radhiyallahu 'anhu berkata terkait sesuatu pun, 'Sungguh, aku mengira demikian,' melainkan terjadilah tepat seperti perkiraannya'."
(HR. Al-Bukhari)
[Shahih: Al-Bukhari (3866); silahkan dirujuk kembali hadits no. 259 dan 562].


Penjelasan hadits:


Imam Ahmad bin Hanbal ditanya, "Kenapa karamah-karamah di zaman shahabat sedikit jika dibandingkan dengan karamah-karamah para wali setelah generasi mereka menurut riwayat-riwayat yang ada?!' Ia menjawab, 'Keimanan mereka (para shahabat) kuat, sehingga tidak memerlukan tambahan apa pun untuk memperkuatnya. Berbeda dengan yang lain, iman mereka lemah sehingga memerlukan karamah untuk memperkuatnya.' Wallahu a'lam.