AHLAN WA SAHLAN YA IKHWAH...
Sedikit kata untuk kita renungkan bersama...

Jumat, 18 Juli 2014

SYARAH HADITS ARBA'IN AN NAWAWI, Hadits Ke-3.

Syarah Hadits Arba'in an Nawawi



Hadits Ke-3:



"Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Al Khaththab radhiyallahu 'anhu dia berkata, "Saya mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Islam dibangun diatas lima perkara: Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa Ramadhan."
(HR. Tirmidzi dan Muslim).



Penjelasan:



Sabda beliau Shallallahu 'alaihi wasallam: "Islam dibangun di atas lima perkara." Menerangkan tentang keagungan lima perkara ini, bahwa Islam terbangun diatasnya. Ini merupakan penyerupaan secara maknawi dengan bangunan yang bersifat konkrit. Sebagaimana bangunan tidak bisa tegak kecuali di atas tiang-tiangnya, maka demikian pula Islam hanya tegak diatas lima perkara ini. Beliau Shallallahu 'alaihi wasallam hanya menyebut lima perkara ini karena semuanya merupakan asas bagi perkara lainnya. Adapun perkara lainnya mengikuti lima perkara ini.



An-Nawawi menyebutkan hadits ini setelah hadits Jibril yang juga mencakup lima perkara ini, sebab hadits ini menerangkan pentingnya kelima perkara ini. Bahwa kelima perkara ini merupakan asas yang dibangun di atasnya Islam. Sehingga dalam hadits ini terdapat makna tambahan bagi hadits Jibril.




Kelima rukun yang menjadi pondasi Islam ini, yang pertama adalah dua kalimat syahadat yang merupakan asas yang paling dasar. Rukun lainnya dan perkara-perkara lainnya mengikuti rukun ini. Rukun-rukun ini dan amal-amal lainnya tidaklah bermanfa'at jika tidak didasari oleh kedua syahadat ini. Kedua kalimat ini saling berkaitan. Syahadat Laa ilaaha illallaah harus diikuti oleh syahadat Muhammad Rasulullah. Konseksuensi syahadat Laa ilaaha illallaah adalah beribadah hanya kepada Allah. Dan konsekuensi syahadat Muhammad Rasulullah adalah beribadah harus mengikuti ajaran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Kedua asas ini harus ada dalam setiap amal yang dikerjakan oleh seorang insan. Maka harus memurnikan keikhlasan kepada Allah semata dan memurnikan ittiba' kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.



Al-Hafizh berkata dalam Al-Fath (I/50): "Jika ada yang bertanya kenapa tidak disebutkan iman kepada nabi, malaikat dan lainnya yang dicakup oleh pertanyaan Jibril 'alaihissalaam? Jawabannya adalah makna syahadat adalah membenarkan Rasul Shallallahu 'alaihi wasallam dalam setiap apa yang dibawanya, sehingga mencakup semua apa yang beliau sebutkan berupa keyakinan. Al-Isma'ili berkata yang kesimpulannya: Ini termasuk menyebut sesuatu dengan hanya menyebut sebagiannya. Sebagaimana engkau mengatakan: "Aku membaca Al-Hamd" maksudmu adalah Al-Fatihah secara keseluruhan. Demikian pula engkau berkata misalnya: "Aku mempersaksikan kerasulan Muhammad." Maksudmu semua apa yang beliau Shallallahu 'alaihi wasallam sebutkan. Wallahu a'lam.



Rukun Islam yang paling penting setelah dua kalimat syahadat adalah shalat. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam telah mensifatinya sebagai tiang Islam. Sebagaimana disebutkan dalam hadits tentang wasiat beliau Shallallahu 'alaihi wasallam kepada Mu'adz bin Jabal yang merupakan hadits kedua puluh sembilan dari Hadits Arba'in ini. Beliau Shallallahu 'alaihi wasallam juga memberitakan bahwa shalat merupakan perkara agama pertama yang akan hilang. Dan perkara pertama yang akan dihitung dari seorang hamba pada hari kiamat. Silahkan lihat As-Silsilah ash-Shahihah karya Al-Albani (1739, 1358 dan 1748). Dengan shalat bisa dibedakan antara seorang muslim dan kafir (Diriwayatkan oleh Muslim: 134).



Mendirikan shalat ada dua keadaan; Pertama: wajib, yaitu menunaikannya minimal sesuai dengan tata-cara yang diwajibkan sehingga dia dianggap telah menjalankan kewajiban. Kedua: mustahab, yaitu menyempurnakannya dengan melakukan segala hal yang dimustahabkan di dalamnya.



Zakat adalah gandengan shalat di dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:



"Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, Maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan."
(QS. At-Taubah: 5).



Dan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:



"Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, Maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui."
(QS. At-Taubah: 11).



Dan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:



"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus."
(QS. Al-Bayyinah: 5).



Zakat adalah ibadah yang bersifat materi yang manfa'atnya menyebar (tidak terbatas untuk pelakunya saja). Allah telah mewajibkan zakat pada harta orang-orang kaya dengan sifat yang menolong orang miskin namun tidak merugikan orang kaya. Sebab zakat hanyalah sejumlah kecil dari harta yang banyak.



Puasa Ramadhan adalah ibadah fisik. Puasa merupakan rahasia antara seorang hamba dengan Rabbnya, tidak ada yang melihatnya melainkan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebab diantara manusia ada yang tidak berpuasa di bulan Ramadhan namun orang lain menyangkanya puasa. Bisa jadi pula seseorang melakukan puasa sunnah dan orang lain mengira dia tidak puasa. Karena itulah datang dalam sebuah hadits shahih bahwa seorang insan akan diberikan balasan aras amalnya, satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya hingga tujuh ratus kali lipat. Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:



"Kecuali puasa. Sesungguhnya puasa adalah milik-Ku. Aku yang akan membalasnya."
(HR. Bukhari [1894] dan Muslim [164]). Artinya (balasannya) tanpa batas.



Semua amal adalah untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebagaimana firman-Nya:



"Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)."
(QS. Al-An'am: 162-163).



Namun dikhususkan puasa di dalam hadits ini sebagai milik Allah karena tersembunyinya ibadah ini, tidak ada yang melihatnya melainkan Allah.



Haji ke Baitullah adalah ibadah materi dan fisik. Allah mewajibkannya sekali seumur hidup. Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam telah menjelaskan keutamaannya dalam sabdanya:



"Barangsiapa yang berhaji menuju Baitullah ini, dia tidak melakukan rafats (jima' dan hal-hal yang mengarah padanya) dan tidak berbuat fasik maka dia pulang seperti baru dilahirkan dari perut ibunya."
(HR. Bukhari [1820] dan Muslim [1350]).



Demikian pula sabda beliau Shallallahu 'alaihi wasallam:



"Umrah yang satu ke umrah yang lainnya merupakan kafarah (penghapus) bagi dosa yang ada diantara keduanya. Dan haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali syurga."
(HR. Muslim [1349]).



Hadits ini dalam redaksinya mendahulukan haji sebelum puasa. Hadits dengan redaksi seperti ini disebutkan oleh Bukhari di awal Kitabul Iman dalam Shahihnya. Hadits ini dijadikan sebagai dasar bagi susunan kitabnya Al-Jami' ash-Shahih. Sehingga beliau mendahulukan Kitabul Hajj (pembahasan tentang haji) sebelum Kitabus Shiyam (pembahasan tentang puasa).



Telah datang dalam Shahih Muslim [19] hadits yang mendahulukan puasa sebelum haji dan haji sebelum puasa. Di jalur periwayatan yang pertama terdapat penegasan dari Ibnu Umar bahwa yang dia dengar dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam adalah penyebutan puasa terlebih dahulu sebelum haji. Berdasarkan hal ini didahulukannya penyebutan haji sebelum puasa di sebagian riwayat termasuk kategori perubahan yang dilakukan oleh sebagian rawi atau periwayatan secara makna (tidak kontekstual). Redaksinya pada Shahih Muslim dari Ibnu Umar dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda:



"Islam dibangun di atas lima perkara: Di atas tauhid (meng-esakan) Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan haji."



Seorang lelaki berkata (Kepada Ibnu Umar): "Haji dan puasa Ramadhan?" Beliau berkata, "Tidak, puasa Ramadhan dan haji. Demikianlah aku mendengarnya dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam."



Kelima rukun ini disebutkan secara berurutan sesuai dengan urgensinya masing-masing. Dimulai dengan dua kalimat syahadat yang merupakan asas bagi setiap amal yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kemudian shalat yang dilakukan berulang-ulang sebanyak lima kali sehari semalam. Sehingga shalat merupakan hubungan kuat antara seorang hamba dengan Rabbnya. Kemudian zakat yang wajib dikeluarkan dari harta jika telah berlalu satu tahun, sebab manfa'atnya bisa menyebar. Kemudian puasa yang wajib dalam satu bulan dalam satu tahun, merupakan ibadah fisik yang manfa'atnya hanya bersifat pribadi. Kemudian haji yang wajib sekali seumur hidup.



Di dalam Shahih Muslim terdapat riwayat bahwa Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu menyampaikan hadits ini ketika beliau ditanya seorang lelaki, dia berkata padanya: "Tidakkah engkau berperang?" kemudian beliau menyebutkan hadits ini. Di dalamnya terdapat isyarat bahwa jihad bukan termasuk rukun Islam. Sebab lima perkara ini lazim dan kontinyu bagi setiap mukallaf. Berbeda dengan jihad, yang merupakan fardhu kifayah dan tidak setiap waktu.



Diantara kandungan hadits ini adalah:



1. Penjelasan urgensi kelima perkara ini karena menjadi pondasi bangunan Islam.



2. Menyerupakan sesuatu yang abstrak dengan sesuatu yang konnkrit agar lebih mengena dalam fikiran.



3. Memulai dengan yang paling penting.



4. Dua kalimat syahadat merupakan asas pada dua kalimat itu sendiri dan merupakan asas bagi yang lainnya. Sehingga sebuah amal tidak diterima kecuali dibangun di atas keduanya.



5. Mendahulukan shalat atas amal lainnya, karena merupakan penghubung yang kuat antara seorang hamba dengan Rabbnya.



Sumber:

Kitab "Fathul Qawiyyil Matin fi Syarhil Arba'in wa Tatimmatil Khamsin Lin Nawawi wa Ibni Rajab Rahimahumallah."
Ditulis Oleh: Syaikh 'Abdul Muhsin bin Hamd al-'Abbad al-Badr.
Diterjemahkan oleh:
Abu Habiib Sofyan Saladin.
Dalam Judul Versi Indonesia: "Syarah Hadits Arba'in an-Nawawi" (Plus 8 Hadits Ibnu Rajab).
Penerbit: "Darul Ilmi", Cileungsi-Bogor.

Kamis, 10 Juli 2014

SYARAH HADITS ARBA'IN AN NAWAWI, Hadits Ke-2.

Syarah Hadits Arba'in an-Nawawi



Hadits ke-2:



“Dari Umar radhiyallahu 'anhu juga dia berkata: “Ketika kami duduk-duduk di sisi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam lalu menempelkan kedua lututnya dan meletakkan kedua tangannya pada kedua pahanya seraya berkata: ''Wahai Muhammad, beritahukan aku tentang Islam.” Maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam: “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu.” Kemudian laki-laki tersebut berkata, “anda benar.” Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian laki-laki tersebut bertanya lagi, “Beritahukan aku tentang Iman.” Lalu beliau Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” Kemudian laki-laki tersebut berkata, “Anda benar.” Kemudian laki-laki tersebut berkata lagi, “Beritahukan aku tentang Ihsan.” Lalu beliau Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka sesungguhnya Dia melihat engkau.” Kemudian laki-laki tersebut berkata, “Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya).” Beliau Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.” Dia berkata lagi, “Beritahukan aku tentang tanda-tandanya.” Beliau Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Jika seorang budak wanita melahirkan tuannya. Dan jika engkau melihat seorang yang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba berlomba-lomba meninggikan bangunan.” Kemudian laki-laki tersebut berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau Shallallahu 'alaihi wasallam bertanya, “Tahukah engkau siapa laki-laki tadi yang bertanya?” Aku berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Dia adalah Jibril. Dia datang kepada kalian untuk mengajari kalian agama kalian.”
(HR. Muslim).



Penjelasan:



Hadits Jibril ini adalah riwayat dari Umar Radhiyallahu 'anhu, dikeluarkan oleh Muslim saja dari Bukhari. Namun keduanya juga sama-sama mengeluarkannya dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu. Imam An-Nawawi Rahimahullah memulai hadits-hadits arba'in nya dengan hadits Umar (Innamal 'amalu binniyyati) dan merupakan hadits pertama dalam Shahih Bukhari. Kemudian dia lanjutkan dengan hadits Umar tentang kisah kedatangan Jibril kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, yang merupakan hadits pertama dalam Shahih Muslim. Sebelumnya, hal yang sama telah dilakukan oleh Imam Al-Baghawi dalam dua kitabnya Syarhus Sunnah dan Mashabihus Sunnah. Kedua kitabnya ini diawali dengan dua hadits tersebut.



Hadits ini adalah hadits pertama dalam Kitabul Iman dalam Shahih Muslim. Diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar dari ayahnya. Periwayatan hadits ini memiliki kisah tersendiri yang disebutkan oleh Muslim di awal hadits ini dengan sanadnya dari Yahya bin Ya'mar. Dia berkata, “Orang pertama yang menyuarakan Qadariyah di Bashrah adalah Ma'bad al-Juhani. Kemudian aku dan Hamid Ibnu Abdirrahman al-Himyari pergi berhaji atau umrah. Kamipun berkata, “Jika kita bertemu dengan salah seorang shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, kita akan tanya dia tentang ucapan orang-orang tersebut mengenai takdir.” Akhirnya kami mendapat taufik untuk bertemu dengan Abdullah bin Umar bin Khaththab yang kala itu tengah memasuki masjid. Kami segera mengapitnya, dari kanan dan kiri. Aku mengira temanku menyerahkan pembicaraan kepadaku, akupun berkata, “Wahai Abu Abdirrahman, sesungguhnya telah muncul orang-orang yang membaca Al-Qur'an dan mempelajari ilmu.” Dia sebutkan bahwa diantara perkara mereka adalah mereka menganggap tidak ada takdir, segala perkara terjadi begitu saja. Diapun berkata, “Jika engkau bertemu mereka, beritahukan mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dariku. Demi Allah yang dengan-Nya Abdullah bin Umar bersumpah! Seandainya salah seorang dari mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud kemudian dia menginfakkannya, niscaya Allah tidak akan menerimanya darinya hingga dia beriman kepada takdir.” Kemudian dia berkata, “Ayahku Umar bin Khaththab telah menyampaikan hadits padaku.” Kemudian dia menyebutkan hadits ini sebagai dalil atas iman kepada takdir.



Kandungan kisah ini adalah bahwasanya bid'ah Qadariyah muncul di zaman para shahabat, dan Ibnu Umar masih hidup, dia meninggal tahun 73 H semoga Allah meridhainya. Kemudian para Tabi'in merujuk kepada para shahabat Rasul Shallallahu 'alaihi wasallam untuk mengetahui urusan agama. Inilah yang wajib dilakukan, yaitu kembali kepada para ulama disetiap waktu. Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:



“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”
(QS. An-Nahl: 43).



Kandungan lain dari kisah ini bahwasanya bid'ah Qadariyah merupakan salah satu bid'ah paling buruk. Karena komentar Ibnu Umar sangat keras tentangnya.



Kandungan lainnya dari kisah ini bahwa seorang mufti (pemberi fatwa) ketika menyebutkan satu hukum dia menyebutkannya bersama dalilnya.



Hadits Jibril ini mengandung dalil bahwa para malaikat terkadang mendatangi manusia dalam bentuk manusia. Contohnya apa yang disebutkan dalam Al-Qur'an tentang kedatangan Jibril kepada Maryam dalam bentuk manusia. Demikian pula kedatangan malaikat kepada Ibrahim dan Luth dalam bentuk manusia. Dengan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta'ala mereka berubah wujud dari wujud asli mereka ke dalam wujud manusia. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman tentang penciptaan malaikat:



“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan Malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya.”
(QS. Fathir: 1).



Dalam Shahih Bukhari [4858] dan Shahih Muslim [280] disebutkan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam melihat Jibril memiliki enam ratus sayap.



Kisah kedatangan Jibril ini kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam lalu duduk di hadapannya memuat beberapa adab penuntut ilmu dihadapan gurunya. Faedah lainnya bahwa seorang yang bertanya tidak mesti hanya menanyakan sesuatu yang tidak diketahui hukumnya, namun selayaknya dia menanyakan hal lain yang telah dia ketahui hukumnya agar para hadirin mendengarkan jawabannya. Karena itulah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam di akhir hadits menyebut Jibril sebagai pengajar. Beliau Shallallahu 'alaihi wasallam berkata, “Sesungguhnya dia adalah Jibril. Dia mendatangi kalian untuk mengajari kalian agama kalian.” Padahal Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam lah yang mengajar, sebab beliau yang secara langsung menyampaikan. Namun beliau sandarkan kepada Jibril karena dialah yang menjadi sebab.



Ucapannya: “Wahai Muhammad, beritahukan aku tentang Islam.” Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menjawab, “Islam adalah engkau bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan haji ke Baitullah jika engkau mampu.” Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam menjawab pertanyaan Jibril tentang Islam dengan perkara-perkara lahiriyah. Dan ketika ditanya tentang Iman, beliau menjawabnya dengan perkara-perkara bathin. Lafazh Islam dan Iman termasuk lafazh yang jika disebut secara bersamaan maka masing-masing memiliki makna yang berbeda. Disini, keduanya disebut bersamaan maka Islam ditafsirkan dengan perkara-perkara lahiriyah. Inilah yang sesuai dengan makna Islam, yaitu berserah diri dan tunduk kepada Allah Ta'ala. Sedangkan Iman ditafsirkan dengan perkara-perkara bathin, dan ini sesuai dengan makna iman, yaitu membenarkan dan mengakui. Namun jika kedua lafazh ini disebut secara terpisah, maka maknanya sama: mencakup perkara lahiriyah dan bathin. Di antara contoh penyebutan Islam secara tersendiri adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:



“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi.”
(QS. Ali Imran: 85).



Adapun contoh disebutkannya iman secara tersendiri adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:



“Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi.”
(QS. Al Ma'idah: 5).



Sama dengan ini kata fakir dan miskin, birr dan takwa dan lainnya.



Perkara pertama yang menjadi tafsir Islam adalah Syahadat Laa ilaaha illallaah dan Syahadat Muhammad Rasulullah. Kedua Syahadat ini saling berkaitan. Keduanya dituntut dari setiap manusia dan jin semenjak diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam sampai hari kiamat. Barangsiapa yang tidak mengimani beliau maka dia termasuk penghuni neraka. Berdasarkan sabda beliau Shallallahu 'alaihi wasallam:



“Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidak seorangpun dari umat ini baik seorang Yahudi maupun Nasrani, yang mendengar tentangku, lalu dia mati tanpa beriman dengan risalah yang aku bawa, melainkan dia termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim [240]).



Makna Syahadat Laa ilaaha illallaah adalah tidak ada sesembahan yang haq melainkan Allah. Kalimat ikhlas ini mengandung dua rukun: Peniadaan yang bersifat umum diawalnya, dan penetapan yang bersifat khusus di akhirnya. Awalnya mengandung peniadaan ibadah dari segala sesuatu selain Allah Ta'ala, kemudian akhirnya mengandung penetapan ibadah hanya kepada Allah Ta'ala tanpa ada sekutu bagi-Nya. Khabar Laa (nafiyah lil jins) takdirnya adalah Haq. Tidak sesuai jika ditakdirkan dengan Maujuud (Ada). Sebab sesembahan-sesembahan batil ada dan banyak. Sehingga yang dinafikan adalah sifat ketuhanan yang haq. Inilah yang dinafikan dari segala sesuatu selain Allah, dan ditetapkan bagi Allah semata.



Makna Syahadat Muhammad Rasulullah adalah mencintai beliau melebihi makhluk lainnya, mentaati beliau dalam setiap perintahnya, meninggalkan segala apa yang beliau larang, membenarkan berita-berita yang beliau sampaikan, baik yang telah berlalu, yang akan datang maupun yang sedang berlangsung, dan ini tidak disaksikan dan tidak dilihat langsung. Dan beribadah kepada Allah sesuai dengan kebenaran dan petunjuk yang beliau ajarkan.



Mengikhlaskan amal kepada Allah dan mengikuti apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam merupakan konsekuensi dari Syahadat Laa ilaaha illallaah dan Muhammad Rasulullah. Semua amal yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah harus ikhlas kepada Allah dan sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Jika ikhlas tidak ada maka amal tidak diterima. Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:



“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.”
(QS. Al-Furqan: 23).



Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman dalam hadits qudsi:



“Aku paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang mengerjakan sebuah amal, dia menyekutukan Aku dengan selain-Ku di dalamnya, maka Aku tinggalkan dia bersama syiriknya.”
(HR. Muslim [2985]).



Dan jika ittiba' (kesesuaian dengan Sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam) tidak ada, maka amal itu juga tertolak. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam:



“Barangsiapa yang membuat-buat dalam dalam urusan kami sesuatu yang tidak berasal darinya, maka hal tersebut tertolak.”
(HR. Bukhari [2697] dan Muslim [1718]).



Dalam salah satu lafazh riwayat Muslim:



“Barangsiapa yang mengerjakan sebuah amal yang tidak didasari oleh perintah kami maka ia tertolak.”



Hadits ini lebih umum daripada hadits pertama. Sebab mencakup orang yang melakukan sebuah bid'ah yang ia buat sendiri dan orang yang melakukan bid'ah karena mengikuti orang lain.



Ucapannya; Dia berkata, “Anda benar.” Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan. Keheranannya ini disebabkan karena biasanya orang yang bertanya tidak mengetahui jawabannya, sehingga dia bertanya agar mengetahui jawabannya. Orang seperti ini tidak akan berkata kepada orang yang ditanyanya ketika mendapat jawaban, “Engkau benar.” Sebab jika si penanya membenarkan orang yang ditanya, ini menunjukkan bahwa si penanya sudah mengetahui jawabannya sejak awal. Karena itulah para shahabat heran dengan si penanya yang aneh tersebut yang membenarkan jawaban Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam.



Ucapannya; Dia bertanya lagi, “Beritahukan aku tentang Iman.” Lalu beliau bersabda, “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” Jawaban ini mencakup enam rukun Iman. Rukun pertama adalah beriman kepada Allah. Yang merupakan asas iman terhadap semua yang wajib diimani. Karena itulah di-idhafah-kan kepada-Nya para malaikat, kitab-kitab dan rasul-rasul. Barangsiapa yang tidak beriman kepada Allah maka dia tidak mengimani rukun lainnya. Iman kepada Allah mencakup iman kepada Rububiyah-Nya, Uluhiyah-Nya, nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Dan bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala disifati dengan segala sifat sempurna yang layak dengan-Nya, suci dari segala sifat kekurangan. Maka wajib mengesakan Allah dengan Rububiyah-Nya, Uluhiyah-Nya serta Asma' was shifat-Nya.



Mentauhidkan Allah dengan Rububiyah-Nya yaitu berikrar bahwa Dia Maha Esa dalam perbuatannya, tanpa ada sekutu bagi-Nya. Seperti menciptakan, memberi rizki, menghidupkan, mematikan, mengatur segala urusan, mengatur semesta alam dan lain-lainnya yang berkaitan dengan Rububiyah-Nya.



Tauhid Uluhiyah adalah mentauhidkan-Nya dalam perbuatan para hamba. Seperti do'a, rasa takut, rasa harap, tawakkal, memohon pertolongan, memohon perlindungan, istighatsah, menyembelih, bernadzar dan jenis-jenis ibadah lainnya yang wajib diserahkan hanya kepada Allah. Tidak boleh diserahkan kepada selain-Nya sedikitpun. Meskipun kepada malaikat yang dekat dengan-Nya ataupun nabi yang diutus, apalagi yang lainnya.



Adapun Tauhid Asma' Was Shifat adalah menetapkan segala apa yang ditetapkan oleh Allah bagi diri-Nya dan ditetapkan oleh Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wasallam berupa nama-nama dan sifat-sifat yang layak dengan kesempurnaan dan keagungan-Nya, tanpa takyif atau tamtsil, ataupun tahrif, ta'wil dan ta'thil. Serta mensucikan-Nya dari segala hal yang tidak layak bagi-Nya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :



“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.”
(QS. Asy-Syuura: 11).



Di dalam ayat ini terkumpul antara penetapan dan pensucian. Penetapan terkandung dalam firman-Nya: “Dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.” Dan pensucian terkandung dalam firman-Nya: “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia.” Maka sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala memiliki pendengaran yang tidak sama dengan pendengaran-pendengaran lain. Dia memiliki penglihatan yang tidak sama dengan penglihatan-penglihatan lain. Demikian seterusnya dikatakan dalam setiap nama dan sifat yang tetap bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala.



Iman kepada malaikat adalah beriman bahwasanya mereka termasuk makhluk yang diciptakan Allah. Mereka diciptakan dari cahaya, sebagaimana disebutkan dalam Shahih Muslim [2996] bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:



“Malaikat diciptakan dari cahaya. Jin diciptakan dari Nyala api. Dan Adam diciptakan dari apa yang telah disifatkan kepada kalian.”



Mereka memiliki sayap sebagaimana disebut dalam ayat pertama surat Fathir. Jibril saja memiliki 600 sayap, sebagaimana disebutkan dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam di muka. Jumlah mereka sangat banyak, tidak ada yang mengetahui jumlah pastinya melainkan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dalilnya adalah bahwasanya Baitul Ma'mur yang berada dilangit ketujuh dimasuki oleh 70.000 malaikat setiap harinya tanpa pernah kembali lagi ke dalamnya. Diriwayatkan oleh Bukhari [3207] dan Muslim [259]. Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya [2842] dari Abdullah bin Ma'ud Radhiyallahu 'anhu dia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:



“Pada hari itu akan didatangkan Neraka Jahannam dengan 70.000 tali pengekang, setiap kekang ditarik oleh 70.000 malaikat.”



Diantara malaikat ada yang ditugaskan untuk menyampaikan wahyu. Ada pula yang ditugaskan menurunkan hujan. Ada yang ditugaskan untuk mematikan. Ada yang ditugaskan didalam rahim. Ada yang ditugaskan di surga. Ada yang ditugaskan di neraka. Dan lain-lainnya. Semuanya tunduk dan taat kepada perintah Allah. Mereka tidaklah menentang perintah-Nya, mereka melakukan apa yang diperintahkan kepada mereka. Diantara malaikat ada yang disebut namanya dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah, yaitu Jibril, Mikail, Israfil, Malik, Munkar dan Nakir. Wajib mengimani malaikat yang telah disebut namanya ataupun yang belum disebut namanya. Wajib pula mengimani dan membenarkan semua berita tentang malaikat yang disebutkan oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah yang shahih.



Iman kepada kitab-kitab-Nya adalah membenarkan dan mengakui semua kitab yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada salah seorang Rasul-Nya. Serta meyakini bahwa semua haq, diturunkan (dari sisi Allah) dan bukan makhluk. Semuanya mengandung kebahagiaan bagi umat tempat diturunkannya. Barangsiapa yang mengambilnya maka dia akan selamat dan beruntung. Dan barangsiapa yang berpaling darinya maka dia telah merugi. Diantara kitab-kitab ini ada yang disebut namanya dan ada yang tidak. Diantara yang disebut dalam Al-Qur'an adalah Taurat, Injil, Zabur dan Shuhuf Ibrahim dan Musa. Penyebutan Shuhuf Ibrahim dan Musa tercantum pada dua tempat di dalam Al-Qur'an; pada surat An-Najm dan Al-A'la. Zabur Daud disebut dua kali dalam Al-Qur'an, yaitu dalam surat An-Nisa' dan Al-Isra'. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman pada kedua surat tersebut:



“Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.”
(QS. An-Nisa': 163 dan Al-Isra': 55).



Adapun Taurat dan Injil banyak disebutkan dalam Al-Qur'an, namun yang terbanyak adalah penyebutan Taurat. Tidak pernah seorang rasul disebut dalam Al-Qur'an seperti Musa. Dan tidak pernah satu kitab disebut di dalam Al-Qur'an seperti Kitab Musa. Namanya disebut dengan At-Taurat, Al-Kitab, Al-Furqan, Adh-Dhiya' dan Adz-Dzikr.



Salah satu keistimewaan Al-Qur'an dibanding kitab-kitab sebelumnya adalah Al-Qur'an menjadi mukjizat abadi. Allah menjamin keterpeliharaannya, selamat dari perubahan dan diturunkan tidak sekaligus.



Iman kepada rasul-rasul adalah membenarkan dan mengakui bahwa Allah memilih dari kalangan manusia para rasul dan nabi yang menuntun manusia menuju kebenaran dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:



“Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari Malaikat dan dari manusia.”
(QS. Al-Hajj: 75).



Adapun jin, tidak ada rasul di kalangan mereka, yang ada hanyalah para pemberi peringatan. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala firmankan:



“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur'an, Maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: ''Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).” ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur'an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari adzab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari adzab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah, mereka itu dalam kesesatan yang nyata.”
(QS. Al-Ahqaf: 29-32).



Mereka tidak menyebut rasul dari kalangan mereka dan tidak pula kitab-kitab diturunkan kepada mereka. Mereka hanya menyebut dua kitab yang diturunkan kepada Musa dan Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam. Dan tidak disebutkan Injil yang datang setelah Taurat. Hal itu karena banyak dari hukum-hukum Injil telah ada didalam Taurat. Ibnu Katsir berkata ketika menafsirkan ayat-ayat ini, ''Mereka tidak menyebut Isa karena Isa 'alaihissalaam diturunkan kepadanya Injil. Di dalamnya banyak terdapat wejangan dan nasihat yang bertujuan untuk melembutkan hati, serta sedikit menyebutkan halal dan haram. Maka Injil hakikatnya seperti penyempurna syari'at Taurat, sebab sandarannya adalah Taurat.” Karena itulah mereka berkata: “Yang telah diturunkan sesudah Musa.”



Rasul adalah orang yang dibebankan untuk menyampaikan syari'at yang diturunkan kepadanya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:



“Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan).”
(QS. Al-Hadid: 25).



Alkitab adalah isim jins yang berarti kitab-kitab.
Sedang nabi adalah orang yang diwahyukan kepadanya untuk menyampaikan syari'at sebelumnya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:



“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat yang didalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara Kitab-kitab Allah.”
(QS. Al-Ma'idah: 44).



Para rasul dan nabi telah menyampaikan apa yang diperintahkan kepada mereka dengan sempurna. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:



“Mereka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.”
(QS. An-Nahl: 35).



Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman:



“Orang-orang kafir dibawa ke neraka jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Apakah belum pernah datang kepadamu Rasul-rasul diantaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?” mereka menjawab: “Benar (telah datang).” tetapi telah pasti berlaku ketetapan adzab terhadap orang-orang yang kafir.”
(QS. Az-Zumar: 71).



Az-Zuhri berkata, “Dari Allah Subhanahu wa Ta'ala berasal Risalah, kewajiban Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam untuk menyampaikan dan kewajiban kita untuk menerima.” Disebutkan oleh Bukhari dalam Shahihnya pada Kitabut Tauhid, bab firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:



“Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.”
(QS. Al-Ma'idah: 67). [XIII/503 bersama Al-Fath].



Diantara para rasul ada yang dikisahkan di dalam Al-Qur'an, ada pula yang belum dikisahkan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:



“Dan (Kami telah mengutus) Rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan Rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu.”
(QS. An-Nisa': 164).



Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:



“Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, diantara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan diantara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu.”
(QS. Ghafir: 78).



Rasul-rasul yang dikisahkan di dalam Al-Qur'an ada dua puluh lima rasul. Delapan belas diantaranya disebutkan dalam surat Al-An'am, yaitu firman Allah Ta'ala:



“Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yaqub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas semuanya termasuk orang-orang yang shalih. Dan Ismail, Alyasa', Yunus dan Luth masing-masing Kami lebihkan derajatnya diatas umat (di masanya).”
(QS. Al-An'am: 83-86).



Tujuh orang sisanya adalah Adam, Idris, Hud, Shalih, Syu'aib, Dzulkifli dan Muhammad Shalawatullaah wa salaamuhu wa barakaatuhu 'alaihim ajma'in.



Iman kepada hari akhir adalah membenarkan dan mengakui segala apa yang disebutkan di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah tentang peristiwa setelah mati. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjadikan kehidupan ini dua kampung: Kampung dunia dan kampung akhirat. Pembatas antara kedua kehidupan ini adalah kematian, tiupan sangkakala yang mematikan semua orang yang masih hidup di akhir zaman. Semua orang yang telah mati telah tiba kiamatnya, berpindah dari kampung amal menuju kampung balasan. Kehidupan setelah mati ada dua: kehidupan barzakh, yaitu setelah mati hingga hari kebangkitan. Dan kehidupan setelah mati. Kehidupan barzakh tidak ada yang mengetahui halilatnya kecuali Allah. Kehidupan ini mengikuti kehidupan setelah mati. Sebab di kedua kehidupan ini diberikan balasan amal. Orang-orang yang berbahagia mendapatkan nikmat surga dalam kubur mereka. Sedang orang-orang yang sengsara mendapatkan adzab neraka didalam kubur mereka.



Termasuk iman kepada hari akhir adalah iman kepada hari pembangkitan, pengumpulan, syafa'at, telaga, hisab (perhitungan amal), mizan (timbangan amal), shirat (jembatan), surga, neraka dan lainnya yang telah disebutkan di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah.



Iman kepada takdir adalah beriman bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menetapkan segala sesuatu yang terjadi hingga hari kiamat. Ini memiliki empat fase:



1. Allah sejak awal mengetahui segala apa yang terjadi.
2. Allah menulis semua takdir lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.
3. Allah berkehendak atas semua yang ditakdirkan.
4. Allah menciptakan dan mengadakan semua apa yang ditakdirkan-Nya sesuai dengan ilmu-Nya, catatan-Nya dan kehendak-Nya.



Maka bagi kita wajib beriman dengan ke-empat fase ini. Dan meyakini bahwa segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah pasti ada, dan segala sesuatu yang tidak dikehendaki oleh Allah, maka tidak mungkin ada. Inilah dia makna sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam:



“Dan ketahuilah bahwa apa yang menimpamu tidak mungkin meleset darimu. Dan apa yang tidak mengenaimu tidak mungkin menimpamu.”



Ucapannya, “Beritahukan aku tentang ihsan.” Lalu beliau bersabda, “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihatmu.” Ihsan merupakan derajat paling tinggi. Di bawahnya adalah derajat iman kemudian Islam. Setiap mukmin adalah muslim, dan setiap muhsin adalah mukmin dan muslim. Dan tidak setiap muslim seorang mukmin dan muhsin. Karena itu disebutkan dalam surat Al-Hujurat:



“Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman.” Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah, tapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu.”
(QS. Al-Hujurat: 14).



Di dalam hadits ini diterangkan ketinggian derajat ihsan, yaitu sabda beliau Shallallahu 'alaihi wasallam: “Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya.” Artinya engkau beribadah kepada-Nya seolah-olah engkau berdiri dihadapan-Nya, melihat-Nya. Barangsiapa yang seperti ini keadaannya, maka sesungguhnya dia telah melaksanakan ibadah dengan sempurna. Jika tidak demikian, maka dia harus meresapi dan menyadari bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala melihatnya dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi dari-Nya. Sehingga dia berhati-hati jangan sampai Allah melihatnya melakukan apa yang telah dilarang-Nya. Karenanya dia beramal agar dilihat-Nya, bukan karena dilihat seseorang, sesuai dengan perintah-Nya.



Ucapannya: Kemudian dia berkata: “Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya).” Beliau bersabda: “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.” Allah mengkhususkan diri-Nya dengan ilmu ghaib, maka tidak ada yang mengetahui kapan terjadi kiamat melainkan Dia.



Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:



“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim, dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok, dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(QS. Luqman: 34).



Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:



“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri.”
(QS. Al-An'am: 59).



Diantaranya adalah ilmu tentang hari kiamat. Di dalam Shahih Bukhari [4778] dari Abdullah bin Umar dia berkata: Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:



“Kunci-kunci ilmu ghaib ada lima.” Kemudian beliau membaca: “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat.”



Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:



“Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Kapankah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang dilangit dan di bumi, kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.” Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
(QS. Al-A'raf: 187).



Di dalam sebuah hadits disebutkan bahwa kiamat akan terjadi pada hari Jum'at. Namun masalah tahun berapa, bulan apa dan Jum'at yang mana terjadinya, tidak ada yang mengetahui hal tersebut melainkan Allah. Di dalam Sunan Abi Daud [1046] dari Abu Hurairah dia berkata: “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:



“Hari terbaik yang terbit padanya matahari adalah hari Jum'at. Di hari Jum'at Adam diciptakan, di hari Jum'at dia diturunkan (ke bumi), di hari Jum'at dia diampuni dan di hari Jum'at dia meninggal. Dan di hari Jum'at terjadi kiamat. Tidak ada satu makhluk melatapun melainkan berubah bentuk pada hari Jum'at dari waktu subuh hingga terbit matahari; karena takut terjadi kiamat, kecuali jin dan manusia.” (Al-Hadits. Hadits ini shahih, para rawinya adalah para rawi Kutubus Sittah, kecuali Al-Qana'i, Ibnu Majah tidak mengeluarkan riwayatnya).



Sabda beliau Shallallahu 'alaihi wasallam: “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.” Artinya bahwa makhluk tidak tahu kapan terjadinya. Dan bahwasanya penanya manapun dan orang manapun yang ditanya sama-sama tidak mengetahuinya.



Ucapannya: Dia berkata, “Beritahukan aku tentang tanda-tandanya.” Beliau bersabda: “Jika seorang budak wanita melahirkan tuannya. Dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, berlomba-lomba meninggikan bangunan.” (amaaroh) artinya tanda-tanda. Tanda-tanda hari kiamat terbagi menjadi dua; (pertama) tanda-tanda kedekatan waktunya, seperti terbitnya matahari dari tempat terbenamnya, keluarnya Dajjal, keluarnya Ya'juj dan Ma'juj, turunnya Isa bin Maryam 'alaihissalaam dari langit dan lain-lainnya. Dan (kedua) tanda-tanda sebelum itu, diantaranya tanda-tanda yang disebutkan pada hadits ini.



Makna sabda beliau Shallallahu 'alaihi wasallam, “Jika seorang budak wanita melahirkan tuannya'' ditafsirkan bahwa ini merupakan isyarat akan banyaknya terjadi penaklukan dan akan banyaknya tawanan. Diantara wanita tawanan ada yang digauli oleh tuannya dan melahirkan seorang anak lelaki untuknya. Sehingga wanita tersebut menjadi Ummu Walad (istilah bagi seorang budak wanita yang melahirkan anak dari hasil hubungan dengan tuannya). Ditafsirkan juga bahwa akan terjadi perubahan keadaan dan perbuatan durhaka dari anak-anak terhadap ayah dan ibu mereka hingga anak-anak seolah menjadi tuan bagi ayah dan ibu mereka.



Makna sabda beliau Shallallahu 'alaihi wasallam, “Dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunan.” Bahwa orang-orang fakir yang menggembala kambing dan tidak memiliki pakaian, keadaan mereka berubah. Mereka berpindah menuju penduduk kota dan mereka berlomba meninggikan bangunan disana. Kedua tanda ini telah terjadi.



Ucapannya: “Kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau bertanya: “Tahukah engkau siapa yang bertanya?” Aku berkata: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian.” Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam telah memberitahu para shahabatnya bahwa orang yang bertanya tersebut adalah Jibril, setelah dia pergi. Terdapat keterangan bahwa beliau Shallallahu 'alaihi wasallam memberitahu Umar tiga hari setelahnya. Hal ini tidaklah bertentangan. Karena Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam memberitahu hadirin dan Umar radhiyallahu 'anhu tidak ada, sebab dia telah meninggalkan majelis. Tiga hari kemudian baru dia berjumpa dengan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam.



Diantara kandungan hadits ini adalah:



1. Seorang penanya, selain bertanya untuk belajar dia juga kadang bertanya untuk memberikan ilmu. Seorang yang mengetahui suatu ilmu bertanya agar para hadirin mendengar jawabannya.



2. Para malaikat terkadang berubah dari bentuk aslinya ke dalam bentuk manusia. Namun ini bukanlah dalil bolehnya sandiwara atau drama yang banyak dilakukan di zaman ini. Sebab sandiwara atau drama adalah salah satu bentuk dusta. Adapun apa yang terjadi pada Jibril, itu merupakan atas izin dan kuasa Allah.



3. Penjelasan tentang adab seorang murid bersama gurunya.



4. Ketika Islam disebut bergandengan dengan Iman maka Islam ditafsirkan dengan perkara-perkara zahir dan Iman ditafsirkan dengan perkara-perkara bathin.



5. Memulai dengan yang terpenting. Sebab beliau Shallallahu 'alaihi wasallam memulai tafsir Islam dengan Syahadatain dan tafsir iman dengan iman kepada Allah.



6. Rukun Islam ada lima dan pokok Iman ada enam.



7. Penjelasan perbedaan tingkatan Islam, Iman dan Ihsan.



8. Penjelasan ketinggian derajat Iman.



9. Ilmu tentang hari kiamat merupakan salah satu perkara yang dikhususkan oleh Allah untuk diri-Nya.



10. Penjelasan tentang beberapa tanda kiamat.



11. Seorang yang tidak tahu mengucapkan: Allahu a'lam.



Sumber:

Kitab "Fathul Qawiyyil Matin fi Syarhil Arba'in wa Tatimmatil Khamsin Lin Nawawi wa Ibni Rajab Rahimahumallah."
Ditulis Oleh: Syaikh 'Abdul Muhsin bin Hamd al-'Abbad al-Badr.
Diterjemahkan oleh:
Abu Habiib Sofyan Saladin.
Dalam Judul Versi Indonesia: "Syarah Hadits Arba'in an-Nawawi" (Plus 8 Hadits Ibnu Rajab).
Penerbit: "Darul Ilmi", Cileungsi-Bogor.

Minggu, 11 Mei 2014

ADAKAH AMALAN KHUSUS DI BULAN RAJAB...??




Assalamu’alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh..

Ikhwan wa Akhwat Fillah..

Allah telah memuliakan beberapa hari, malam, dan bulan atas sebagian yang lainnya. Semua ini sesuai dengan hikmah ilahiyah yang sangat dalam. Tujuannya, agar para hamba lebih giat melaksanakan kebaikan dan memperbanyak amal shalih di dalamnya. Tetapi, syetan dari jenis manusia dan jin senantiasa berusaha menghalangi mereka dari jalan yang lurus dan mengintai mereka dari segala penjuru agar tidak jadi melaksanakan kebaikan-kebaikan. Syetan juga menipu umat manusia dengan menanamkan keyakinan bahwa saat-saat yang utama dan penuh rahmat tersebut adalah kesempatan  mereka untuk berleha-leha dan bersantai serta menuruti nafsu dan syahwat.

Syetan juga menggoda kelompok yang lain -biasanya dari kalangan juhal yang terlihat agamis, para pemimpin, dan tokoh masyrakat- dengan ditakut-takuti akan kehilangan kesempatan memperoleh pahala yang besar sehingga mereka berlomba-lomba menciptakan ibadah baru (bid'ah) yang tidak pernah Allah turunkan perintah tentangnya.

Hassan bin 'Athiyah berkata, "Tidaklah suatu kaum membuat kebid'ahan dalam agama mereka kecuali Allah mencabut perkara sunnah dari mereka yang semisal, dan tidak akan mengembalikannya kepada mereka hingga hari kiamat." (Al-Hilyah: 6/73)

Bahkan Ayyub Al-Syakhtiyani mengatakan, "Tidaklah pelaku bid'ah bersungguh-sungguh dalam kebid'ahannya kecuali akan menambah jauh dari Allah," (Al-Hilyah: 3/9)

Di antara perkara yang paling nampak dari kebid'ahan dari musim tersebut adalah perbuatan bid'ah yang telah dikerjakan oleh sebagian ahli ibadah di pelosok negeri pada bulan Rajab. Berikut ini kami tampilkan beberapa persoalan yang sudah diperbincangkan para ulama untuk mengingatkan umat dari mengada-adakan perkara baru dalam berislam.

"Tidaklah pelaku bid'ah bersungguh-sungguh dalam kebid'ahannya kecuali akan menambah jauh dari Allah," (Al-Hilyah: 3/9)

Apakah Rajab memiliki keutamaan khusus dibandingkan bulan lainnya..??

Ibnul Hajar rahimahullah berkata, "Tidak ada hadits shahih yang bisa dijadikan hujjah (argument) untuk menunjukkan keutamaan bulan Rajab baik dengan puasanya, berpuasa pada hari-hari tertentu daripadanya dan qiyamullail yang khusus di dalamnya. Telah ada orang yang mendahuluiku dalam memastikan hal itu yaitu Imam Abu Ismail Al-Harawi al-Haafidz, kami telah meriwayatkan darinya dengan sanad yang shahih, begitu juga kami telah meriwayatkan pula dari yang selainnya." (Tabyin al-'Ajab bimaa Warada fii Fadhli Rajab, Ibnul Hajar, hal. 6. Lihat pula Al-Sunan al-Mubtadi'aat, Imam al-Syuqairi, hal. 125)

Beliau berkata lagi, "Adapun hadits yang menerangkan tentang keutamaan Rajab, atau keutamaan shiyamnya, atau puasa pada sebagian hari darinya sangatlah jelas, yaitu ada dua macam: Dhaif dan maudlu'. . . " (Al-Tabyiin, hal. 8)

Puasa di Bulan Rajab

Pada dasarnya berpuasa di seluruh bulan dalam setahun disyari’atkan kecuali ramadhan atau pada waktu-waktu yang dilarang untuk berpuasa, seperti : dua hari raya, hari-hari tasyriq, hari jum’at. Sedangkan berpuasa di bulan ramadhan adalah diwajibkan.

Seseorang diperbolehkan berpuasa senin kamis, tiga hari dalam sebulan, atau puasa Daud pada bulan manapun dalam setahun termasuk didalamnya bulan rajab. Hal demikian berdasarkan keumuman dalil-dalil yang menerangkan tentang puasa-puasa sunnah, diantaranya :

1. Diriwayatkan dari Abu Hurairoh bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sering berpuasa pada hari senin dan kamis.” (HR. Ahmad dengan sanad shahih)

2. Dari Abu Dzar al Ghifari berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah memerintahkan kami agar berpuasa sebanyak tiga hari pada setiap bulan, yaitu apa yang dinamakan dengan hari putih; tanggal ketiga belas, keempat belas dan kelima belas.’ Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,”Itu semua seperti berpuasa sepanjang waktu.” (HR. An Nasai dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

3. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amar bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda,”Puasa yang paling disukai Allah adalah puasa Daud dan shalat yang paling disukai Allah adalah shalat Daud. Dia tidur sepanjang malam, bangun sepertiganya, lalu tidur seperenamnya dan ia berpuasa satu hari lalu berbuka satu hari.” (HR. Ahmad)

Hal ini seperti yang dikatakan oleh Imam Nawawi bahwa tidak ada pelarangan tentang berpuasa di bulan rajab dan juga tidak ada penganjurannya karena bulan rajabnya itu sendiri akan tetapi berpuasa pada dasarnya disunnahkan. Didalam sunnan Abu Daud bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menganjurkan berpuasa di bulan-bulan haram dan rajab adalah salah satunya. (Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi juz VIII hal 56)

Dan tidak didapat riwayat shahih yang menjelaskan tentang berpuasa rajab dikarenakan keutamaan yang ada didalam bulan itu. Diantara hadits-hadits itu adalah :

1. Diriwayatkan dari Abu Sa’id al Khudriy bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,”Rajab adalah bulan Allah, sya’ban adalah bulanku dan ramadhan adalah bulan umatku. Barangsiapa yang berpuasa rajab dengan keimanan dan penuh harap maka wajib baginya keridhoan Allah yang besar, akan ditempatkan di firdaus yang tertinggi. Barangsiapa yang berpuasa dua hari dari bulan rajab maka baginya pahala yang berlipat dan setiap takarannya sama dengan berat gunung-gunung di dunia dan barangsiapa berpuasa tiga hari dari bulan rajab maka Allah akan menjadikan puasa itu sebuah parit yang lebarnya satu tahun perjalanan diantara dirinya dengan neraka…” Ibnul Jauzi mengatakan bahwa hadits ini maudlu’ (palsu).

2. Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,”Barangsiapa yang berpuasa tiga hari dari bulan rajab maka Allah tetapkan baginya puasa sebulan. Barangsiapa berpuasa tujuh hari dari bulan rajab maka Allah tutupkan baginya tujuh pintu-pintu neraka. Barangsiapa yang berpuasa delapan hari dari bulan rajab maka Allah bukakan baginya delapan pintu-pintu surga dan barangsiapa yang berpuasa setengah bulan rajab maka Allah tetapkan baginya keredhoan-Nya dan barangsiapa yang ditetapkan baginya keridhoan-Nya maka Dia tidak akan mengadzabnya. Dan barangsiapa yang berpuasa selama bulan rajab maka Allah akan menghisabnya dengan hisab yang mudah.” Ibnul Jauzi mengatakan bahwa hadits ini tidak benar karena diantara para perawinya terdapat Aban. Ahmad, Nasai dan Dauquthni mengatakan bahwa hadits ini tidaklah diambil karena didalamnya terdapat Amar bin al Azhar. Ahmad mengatakan bahwa hadits ini maudlu’ (palsu). (Al Maudlu’at juz II hal 205 – 206)

Tentang permasalahan ini, Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan didalam kitabnya “Tabyiinul ‘Ajb” hal 23 bahwa tidak terdapat riwayat tentang keutamaan dari bulan rajab, tidak puasa di bulan itu, tidak berpuasa sedikit saja dari bulan itu dan tidak pula mengerjakan qiyamullail yang dikhususkan di bulan itu.

Ibnul Qayyim mengatakan didalam kitab “al Muniful Manar” hal 151 bahwa seluruh hadits yang menyebutkan bulan rajab, melakukan shalat disebagian malam-malam di bulan itu maka ia adalah pendusta dan pembohong.” (Silsilatul Ahaditsil Wahiyah juz II hal 222)

Ibnu Rajab berkata, "Adapun puasa, tidak ada keterangan yang sah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya tentang keutamaan puasa khusus pada bulan Rajab." (Lathaif al-Ma'arif, hal. 228)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata mengenai hadits-hadits tentang kekhususan berpuasa di bulan Rajab, “Seluruh hadits-haditsnya lemah, bahkan maudlu' (palsu), tidak ada seorang ulama pun yang bersandar padanya. Hadits-hadits tentang keutamaanya bukan saja dhaif tapi umumnya termasuk maudlu' dan dusta." . .  Telah diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunannya, dari Ibnu Majah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa Beliau melarang puasa di bulan Rajab, namun dalam isnadnya masih perlu diteliti. Tapi terdapat riwayat shahih bahwa Umar bin Khathab pernah memukul tangan manusia agar mengambil makanan pada bulan Rajab dan berkata, "Jangan kalian serupakan dengan Ramadlan . . sedangkan menghususkan I'tikaf pada tiga bulan Rajab, Sya'ban, dan Ramadlan saya tidak mengetahui ada perintahnya. Tapi siapa berpuasa yang masyru' dan ingin beri'tikaf dalam puasanya itu, boleh-boleh saja. Dan jika beri'tikaf tanpa puasa terdapat dua pendapat yang masyhur menurut ahli ilmu." (Majmu' Fatawa: 25/290-292)

Bagaimana dengan Shalat Raghaib….??

Terdapat satu riwayat dari Anas, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang menerangkan sifat shalat Raghaib, hanya saja status riwayat tersebut maudhu' (palsu). Ringkas dari riwayat tersebut sebagai berikut:

"Tidak ada seorang pun yang berpuasa pada hari Kamis (yakni Kamis pertama dari bulan Rajab) lalu shalat antara Isya' dan pertengahan malam, yakni pada malam Jum'at sebanyak 12 rakaat, pada setiap rakaatnya dia membaca surat Al-Fatihah sekali, surat Al-Qadar 3 kali, dan surat Al-Ikhlash sebanyak dua belas kali; dia memutus setiap dua rakaat dengan salam. Dan apabila selesai dari shalatnya dia membaca shalawat atasku (Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam) 70 kali, lalu membaca dalam sujudnya, yang artinya :

"Engkau Dzat yang Mahasuci (dari kekurangan dan hal tidak layak bagi kebesaran-Mu), Mahaagung, Rabb para malaikat dan Jibril."

Lalu mengangkat kepalanya dan membaca sebanyak 70 kali, bacaan :

رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَتَجَاوَزَ عَمَّا تَعْلَمُ، إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْأَعْظَمُ

Lalu sujud untuk yang kedua kalinya sambil membaca seperti yang dibaca pada sujud pertama, kemudian dia meminta hajatnya kepada Allah, pasti hajatnya akan dikabulkan." Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah satu orang atau satu umat yang shalat dengan shalat ini kecuali Allah akan mengampuni seluruh dosanya, walaupun seperti buih di lautan, sebanyak bilangan pasir, seberat gunung, sebanyak daun pepohonan, dan di hari kiamat dia mendapat hak untuk memberikan syafaat bagi 700 orang dari keluarganya yang seharusnya masuk ke dalam neraka." (Lihat: Ihya' Ulumid Dien, oleh Imam Al-Ghazali: 1/202 dan Tabyin al-'Ajab, Ibnul Hajar, hal. 22 dan 24)

Para ulama telah membicarakan tentang shalat Raghaib tersebut. Seperti Imam al-Nawawi rahimahullah yang menyebutkannya sebagai perkara bid'ah yang buruk dan sangat munkar, karenanya wajib ditinggalkan dan dijauhi, sedangkan pelakunya wajib diingkari." (Fatawa al-Imam al-Nawawi, hal. 57)

Ibnu Nuhaas rahimahullah berkata, "Dia adalah bid'ah, hadits yang menerangkannya adalah maudlu' (palsu) berdasarkan kesepakat ulama ahli hadits." (Tambih al-Ghafilin, hal. 497)

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, "Adapun Shalat Raghaib: tidak ada dasarnya, bahkan dia perkara yang diada-adakan dan tidak disunnahkan baik terhadap jama'ah atau perorangan. Sungguh telah disebutkan dalam Shahih Muslim, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melarang untuk menghususkan malam Jum'at dengan shalat malam dan pagi harinya dengan berpuasa. Sedangkan atsar yang menyebutkan tentangnya adalah dusta dan palsu dengan kesepakatan ulama, dan tiada seorangpun dari ulama salaf dan para imam yang menyebutkan dasarnya." (Majmu' Fatawa Libni Taimiyyah: 23/132, 134, dan 135)

Imam al-Thurthusyi telah menyebutkan awal munculnya shalat ini, sebagaimana yang beliau sandarkan kepada Abu Muhammad al-Maqdisi, bahwa pada awalnya di Baitul Maqdis tidak didapati shalat model ini (shalat Raghaib) yang dikerjakan pada bulan Rajab dan Sya'ban. Perkara ini pertama kali terjadi pada tahun 448 Hijriyah. Pada saat itu ada seorang laki-laki yang dikenal dengan Ibnu Abil Hamra' yang memiliki bacaan bagus. Dia shalat di Masjid al-Aqsha pada malam nisfu Sya'ban . . .  sampai ucapan dari Abu Muhammad, "Adapun shalat Rajab tidak didapati di Baitul Maqdis kecuali setelah tahun 480 Hijriyah, yang sebelum itu kami tidak pernah melihat dan mendengar di sana." (Al-Haqadits wa al-Bida': hal. 103)

Ibnul Jauzi dalam Al-Maudhu'aat, Al-Hafidz Abul Khuthab, Abu Syamah, Ibnul Haajj, Ibnu Rajab, dan yang lainnya telah memastikan kemaudhu'an (palsunya) riwayat tentang shalat Raghaib. (Lihat Al-Baa'its 'ala Inkaril Bida' wal Hawadits, hal. 61, 62, 105; Lathaif al-Ma'arif, hal. 228 dan lainnya)

Walau demikian, banyak para tokoh dan pemimpin muslim yang tetap melestarikan ibadah bid'ah ini dengan alasan untuk menjaga perasaan orang awam dan supaya mereka tetap mau meramaikan masjidnya. Padahal siapa yang meyakini keabsahan shalat ini atau menganjurkannya maka dia telah menipu orang awam yang seharusnya dia beri petunjuk tentang hakikat yang sebenarnya dan juga telah berlaku mendustakan syariat.

Adapun Shalat Raghaib: tidak ada dasarnya, bahkan dia perkara yang diada-adakan dan tidak disunnahkan baik terhadap jama'ah atau perorangan. (Ibnu Taimiyah)

Isra' dan Mi'raj

Di antara Mu'jizat yang dialami Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah di-Isra'kannya beliau dari masjidl Haram menuju masjid al-Aqsha, kemudian di-Mi'rajkan menuju langit ke tujuh. Hampir di seluruh negeri muslim, terdapat perayaan peringatan malam Isra'-Mi'raj yang dilaksanakan pada malam ke-27 dari bulan Rajab, padahal peristiwa Isra' Mi'raj tidaklah terjadi pada malam tersebut.

Ibnul Hajar berkata, "Sebagian ahli kisah menuturkan peristiwa Isra' terjadi pada bulan Rajab." Beliau berkata, "Dan itu bohong," (Tabyin al-Ajab, hal. 6). Ibnu Rajab berkata, "Telah diriwayatkan dengan sanad yang tidak shahih, dari al-Qasim bin Muhammad bahwa Isranya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam terjadi pada tanggal 27 Rajab, dan (kesimpulan ini) telah diingkari oleh Ibrahim al Harbi dan lainnya." (Zaad al-Ma'ad, Ibnul Qayyim: 1/275)

Ibnul Hajar telah menyebutkan dalam Fathul Baari (7/242-243) beberapa pendapat tentang bulan terjadinya Mi'raj: Rajab, Rabi'ul Awal, Ramadlan, atau Syawal.

Ibnu Taimiyah juga pernah menyebutkan bahwa tidak ada dalil pasti yang menerangkan tentang bulannya dan tanggalnya. Pendapat dalam hal itu sangat banyak dan beragam, tidak ada yang dikuatkan. (Lihat Lathaif al-Ma'ruf, Ibnu Rajab, hal. 233)

Dan seandainya diketahui kepastian malam Isra' dan Mi'raj, maka tidak disyariatkan bagi seseorang mengistimewaknnya dengan ibadah dan perilaku tertentu. Sebabnya, karena tidak ada keterangan bahwa Nabi, atau para sahabat, atau Tabi'in mengistimewakan malam tersebut atas yang lainnya. Apalagi dengan mengadakan perayaan untuk memperingatinya, padahal perayaan tersebut termasuk bid'ah yang munkar.

Dan seandainya diketahui kepastian malam Isra' dan Mi'raj, maka tidak disyariatkan bagi seseorang mengistimewaknnya dengan ibadah dan perilaku tertentu.

Menyembelih di bulan Rajab

Pada dasarnya, menyembelih hewan untuk Allah pada bulan Rajab secara umum tidak dilarang, sebagaimana menyembelih pada bulan selainnya. Tapi, orang-orang jahiliyah biasa melakukan korban (penyembelihan) yang disebut dengan 'Athirah. Karenanya para ulama berbeda pendapat tentang hukumnya, namun mayoritas mereka menyatakan bah hal itu telah dibatalkan oleh Islam berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam Shahihain, dari Abu Hurairah radliyallah 'anhu, "Tidak ada Fara' (anak pertama dari unta atau kambing yang disembelih sebagai persembahan bagi berhala) dan 'Athirah (hewan yang disembelih pada sepuluh hari pertama dari bulan Rajab sebagai persembahan bagi berhala, juga dikenal dengan Rajabiyah)."

Sebagian yang lain berpendapat tetap menggapnya sebagai sunnah. Dasarnya, beberapa hadits yang menunjukkan dibolehkannya. Hal ini dijawab, bahwa hadits Abu Hurairah radliyallah 'anhu lebih shahih dan kuat, maka ia yang lebih layak diamalkan. Bahkan ada sebagian ulama, seperti Ibnul Mundzir menyatakan hadits-hadits tersebut telah dinaskh (dihapus), karena masuk Islamnya Abu Hurairah yang belakangan. Maka dibolehkannya menyembelih hewan dalam rangka ta'abbudan (ibadah) pada awal Islam, lalu dinaskh, dan ini adalah pendapat yang lebih rajih. (Lihat Lathaif al-Ma'arif, hal. 227 dan Al-I'tibaar fin Naasikh wal Mansukh minal Atsar, Imam Al-Hazimi, hal. 388-390)

Imam Al-Hasan al-Bashri berkata, "Di dalam Islam tidak ada 'Athirah, sesungguhnya 'Athirah pada zaman jahiliyah, salah seorang mereka berpuasa dan ber'Athirah." (Lathaif al-Ma'arif, hal. 227)

Ibnu Rajab menyerupakan penyembelihan di bulan Rajab dengan mengadakan hari tertentu dari bulan Rajab untuk berpesta dengan makan manisan dan semisalnya. Telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas radliyallah 'anhuma, dia tidak suka Rajab dijadikan hari raya." (Lathaif al-Ma'arif, hal. 227)

Umrah di bulan Rajab

Sebagain orang sangat bersemangat melakukan umrah pada bulan Rajab dengan keyakinan bahwa umrah pada bulan itu memiliki keistimewaan yang lebih. Keyakinan ini tidak memiliki dasar dalil. Imam Bukhari telah meriwayatkan dari Ibnu Umar radliyallahu 'anhuma, berkata: "Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah melakukan umrah sebanyak empat kali, salah satunya di bulan Rajab."  Maka Aisyah berkata, "Semoga Allah merahmati Abu Abdirrahman, Tidaklah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan umrah kecuali dia ikut serta, dan sama sekali beliau tidak pernah umrah di bulan Rajab." (HR. Bukhari dalam Shahihnya no. 1776)

Hal ini menunjukkan bahwa Aisyah sepakat dengan Ibnu Umar tentang jumlah umrahnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, yaitu empat kali. Namun beliau tidak sepakat dengan Ibnu Umar tentang penetapan bulan umrahnya shallallahu 'alaihi wasallam. Aisyah menganggap Ibnu Umar lupa, karenanya beliau radliyallah 'anha menyatakan bahwa Ibnu Umar senantiasa ikut serta menemani Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam umrahnya, namun beliau tidak pernah berumrah pada bulan Rajab.


Ibnul 'Aththar berkata, "Kabar yang sampai kepadaku tentang penduduk Makkah (semoga Allah menambah kemuliaan Makkah) tentang kebiasaan mereka memperbanyak (menyeringkan) umrah pada bulan Rajab, dan kebiasaan ini adalah persoalan yang saya tidak mengetahui dasar (dalil)nya." (Al-Musajalah Baina Al-'Izz bin Abdissalam wa Ibnus Shalah, hal. 56. Lihta juga : Fatawa al-Syaikh Muhammad bin Ibrahim: 6/131)

Al-Allamah Ibnu Bazz (dalam Fatawa Islamiyah, dikoleksi Prof. Muhammad: 2/303-304) menuturkan tentang waktu yang paling afdhal untuk melaksanakan umrah: Bulan Ramadlan, berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Umrah di Bulan Ramadlan menyamai haji," setelah itu, Umrah di bulan Dzul Qa'dah, karena seluruh umrah beliau shallallahu 'alaihi wasallam dilaksanakan pada bulan Dzul Qa'dah. Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu." (QS. Al-Ahzab: 21)

"Semoga Allah merahmati Abu Abdirrahman, Tidaklah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan umrah kecuali dia ikut serta, dan sama sekali beliau tidak pernah umrah di bulan Rajab." (HR. Bukhari dari perkataan Aisyah)

"Perkataan tidak bisa tegak tanpa amal. Perkataan dan amal tidak bisa tegak tanpa niat. Dan perkataan, amal, dan niat tidak bisa tegak kecuali sesuai dengan sunnah." (Al-Ibanah al-Kubra, Ibnu Baththah: 1/333)

Wallahu’alam bishowab.


Semoga bermanfa’at.